Ankara, Gontornews — Jenderal Khalifa Haftar, yang memimpin milisi bersenjata yang berbasis di Libya timur, menolak gencatan senjata pada 9 Januari yang diminta oleh Rusia dan Turki. Demikian menurut juru bicara milisi Ahmed al-Mismari seperti dirilis hurriyetdailynews.com.
“Kami menyambut seruan [Presiden Rusia Vladimir] Putin untuk gencatan senjata. Namun, perjuangan kami melawan organisasi teroris yang merebut Tripoli dan menerima dukungan dari beberapa negara, akan berlanjut sampai akhir,” kata Mismari dalam sebuah video yang diposting di media sosial.
Pada 8 Januari, Presiden Turki dan Presiden Rusia mendesak gencatan senjata di Libya pada 12 Januari setelah pertemuan di Istanbul.
Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang didukung PBB di Tripoli menyambut seruan gencatan senjata itu.
Pada 4 April 2019, Haftar melancarkan serangan untuk merebut ibukota Tripoli dari GNA. Menurut PBB, lebih dari seribu orang telah tewas sejak awal operasi dan lebih dari 5.000 terluka.
Sejak penggulingan almarhum pemimpin Libya Muammar Gaddafi pada 2011, dua kursi kekuasaan telah muncul di Libya: satu di Libya timur didukung terutama oleh Mesir dan Uni Emirat Arab, dan yang lainnya di Tripoli, yang menikmati pengakuan PBB dan internasional. []


















