Alumni merupakan ambasador utama bagi perguruan tinggi atau universitas dimana seseorang berasal. Sebut saja Universitas Harvard yang mampu mengeluarkan alumni-alumni berprestasi dan berdaya guna di masyarakat. Sebut saja Robert M Solow, seorang tokoh peraih nobel ekonomi, Ex Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, atau Toni Blair yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris.
Tanpa maksud promosi, kehadiran ketiga tokoh dunia di atas telah menjelma sebagai ambasador paling efektif bagi almamaternya. Jika Robert M Solow dan Barack Obama adalah lulusan dari Harvard University, maka Toni Blair adalah ambasador ‘tidak resmi’ dari Oxford University.
Dari dunia Islam, tidak ada masyarakat muslim di dunia yang meragukan kapasitas keilmuan dan kealiman Dr Yusuf Qaradhawi. Belum lagi sosok Presiden Indonesia periode 1998-1999, KH Abdurrahman Wahid alias Gusdur atau Dr (HC) KH Abdullah Syukri Zarkasyi yang memimpin Pondok Modern Darussalam Gontor dengan lebih dari 28.000 santri di seluruh Indonesia. Ketiganya tentu saja menjadi menjelma menjadi ‘penyambung sanad’ keilmuan dari Universitas Al-Azhar di Mesir.
Kiprah para alumni perguruan tinggi ternama di tingkat regional maupun internasional tentu saja mempengaruhi pandangan atau citra masyarakat tempat almamaternya melanjutkan studi dahulu. Karenanya, jalinan hubungan silaturahim antara sepak terjang perguruan tinggi dengan kiprah para alumni di masyarakat menjadi salah satu faktor penting yang menentukan apakah sebuah perguruan tinggi dikategorikan berkualitas atau tidak.
Kesuksesan alumni-alumni universitas yang saya disebutkan itu sangat memberikan pengaruh citra yang baik terhadap universitasnya. Sehingga perlunya jalinan hubungan yang kuat antara alumni dan almamater menjadi salah satu faktor peningkatan kualitas perguruan tinggi.
Sebagai Ketua umum Ikatan Alumni Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia (IKA-STEI Tazkia) periode 2020-2022 tentu sudah menjadi tugas saya untuk memastikan bahwa para alumni dapat mengembangkan keilmuan serta aktif dalam pembangunan masyarakat.
Para alumni pun harus menyadari bahwa selain menjadi ‘ambasador tidak resmi’ mereka juga merupakan representasi perguruan tinggi di masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang.
Meminjam istilah Ex Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy, bahwa kesuksesan sebuah perguruan tinggi dapat diukur dari bagaimana para alumni berdaya guna bagi kehidupan nasional seuatu bangsa.
Pun dengan Imam Ghazali yang mengatakan bahwa jalinan silaturahim antara alumni merupakan cara manusia untuk membuktikan bahwa ilmu selalu dihafal tetapi harus selalu dikembangkan demi memberi manfaat yang paripurna.
Walakhir, kita adalah produk pendidikan dari ilmu yang kita pelajari. Pertanggungjawabannya tentu saja tidak mudah, karena Allah swt menagih hamba-Nya untuk membuktikan seberapa jauh ilmunya dapat bermanfaat setidaknya untuk dirinya maupu orang yang berada di sekelilingnya. Wallāhu A’lam bi Al-Ṣawāb


















