Workshop peta jalan pesantren malam itu tiba-tiba menjadi ramai. Satu ruangan tertawa riang ketika seorang peserta menulis di Mentimeter “Organisme Pesantren.” Sontak terdengar celetukan, “Orgasme apa organisasi?” Hadirin tertawa ramai.
Begitupun beberapa kiai yang membaca seri artikel opini kami. Ada yang bertanya “Apa landasan teorinya, dan siapa tokoh di balik istilah ini?”
Pertanyaan itu wajar. Istilah “organisme” memang tidak lazim disematkan pada lembaga pendidikan Islam. Selama ini kita terbiasa menyebut pesantren dengan metafora mesin “mesin cetak ulama”, “pabrik santri”, atau “lembaga pendidikan.” Padahal, secara teori, organisasi bisa dilihat dengan banyak kacamata. Dan di sinilah Gareth Morgan memberi sumbangan besarnya.
Siapa Gareth Morgan?
Gareth Morgan lahir di Wales, Britania Raya, pada 1943. Ia meraih gelar doktor di bidang sosiologi organisasi dari Universitas Lancaster, Inggris, dan menghabiskan sebagian besar karier akademiknya di Universitas York, Kanada. Ia bukan sekadar akademisi, melainkan juga konsultan manajemen dan penulis.
Buku monumentalnya, Images of Organization, terbit pertama kali pada 1986. Buku ini segera menjadi salah satu teks paling berpengaruh dalam studi organisasi di seluruh dunia. Dalam buku itu, Morgan mengajukan satu gagasan sederhana namun revolusioner, organisasi bukanlah sesuatu yang objektif, tetap, dan tunggal. Ia bisa dilihat sebagai mesin, organisme, otak, budaya, sistem politik, penjara psikis, perubahan, bahkan alat dominasi.
Metafora-metafora itu merupakan cara pandang atau kacamata. Tergantung kacamata mana yang kita pakai, kita akan melihat masalah yang berbeda, dan menemukan solusi yang berbeda pula.
Metafora Kedua yang Paling Mengena
Dari delapan metafora itu, yang paling mengena bagi kami, dengan latar belakang pendidikan dan pesantren, yaitu metafora kedua, organisasi sebagai organisme. Inilah fondasi bagi tulisan-tulisan kami tentang Organisme Pesantren. Kami tidak mengklaim sebagai penemu. Kami hanya menerjemahkan, mengadaptasi, dan mengaplikasikannya ke dalam konteks pesantren.
Morgan menggambarkan organisasi sebagai makhluk hidup. Ia lahir, tumbuh, beradaptasi, bisa sakit, dan bisa mati. Ia sistem terbuka yang terus-menerus berinteraksi dengan lingkungannya. Agar bertahan, organisasi harus mampu memenuhi “kebutuhan”-nya, seperti makhluk hidup memerlukan nutrisi, dan memiliki variasi internal yang sepadan dengan variasi lingkungannya. Ini yang oleh ahli sibernetika W. Ross Ashby disebut law of requisite variety, yang juga diadopsi Morgan.
Dengan kata lain, jika lingkungan berubah, organisasi harus berubah. Kalau tidak, ia akan punah. Morgan juga membedakan dua tipe ideal organisasi mekanistik yang kaku dan hierarkis, cocok untuk lingkungan stabil, dan organisasi organik yang luwes dan mudah menyesuaikan diri, cocok untuk lingkungan dinamis.
Pesantren, dengan segala dinamikanya, dari tekanan modernitas, kebijakan negara, hingga disrupsi digital, jelas membutuhkan kelenturan organik ini. Namun di saat yang sama, ia tidak boleh kehilangan tulang punggungnya.
Beberapa Catatan untuk Morgan
Sebagai akademisi, kami tidak serta-merta menelan mentah-mentah semua yang dikatakan Morgan. Salah satu kelemahan metafora organisme, yang diakui oleh Morgan sendiri, yaitu kecenderungannya melihat organisasi sebagai satu kesatuan yang harmonis. Padahal, di dalam organisasi selalu ada konflik kepentingan, tarik-menarik antarsubsistem, dan politik internal. Tidak semuanya serasi.
Kelemahan lain yaitu bahwa metafora ini bisa mengabaikan adanya “ideologi kaku” yang membuat organisasi sulit beradaptasi meskipun lingkungan sudah berubah.
Nah, dalam konteks pesantren, ini sangat relevan. Ideologi Ahlussunnah wal Jamaah, nilai keikhlasan, kesederhanaan, sanad keilmuan, dan penghormatan kepada kiai bukanlah barang yang bisa diganti seenaknya. Ini “DNA” yang membuat pesantren tetap dikenali. Jika adaptasi berarti membongkar semua itu, maka itu bukan lagi evolusi yang sehat, melainkan metamorfosis yang merusak identitas.
Akar Islam dari Organisasi sebagai Tubuh
Menariknya, jauh sebelum Morgan, Islam sudah memperkenalkan gagasan komunitas sebagai organisme hidup. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perumpamaan kaum Mukminin dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR Muslim).
Hadis ini merupakan fondasi teologis bahwa umat, dan dalam skala lebih kecil pesantren, merupakan tubuh kolektif yang hidup. Setiap elemen kiai, santri, pengurus, alumni, masyarakat sekitar, merupakan anggota tubuh yang saling terhubung. Jika satu bagian sakit, semuanya merasakan.
Bahkan dalam tradisi maqāṣid al-syarī‘ah, al-Syāṭibī mengajarkan bahwa setiap tindakan harus menjaga lima kebutuhan pokok: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Ini sejajar dengan konsep “kesehatan organisasi” dalam metafora organisme. Pesantren yang sehat yaitu yang mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya secara seimbang.
Dengan demikian, menerapkan metafora organisme pada pesantren bukanlah sekadar mengekor teori Barat. Ia bagian dari pemulihan cara pandang Islam sendiri, yang selama ini mungkin tertimbun oleh bahasa-bahasa birokrasi dan manajemen modern.
Organisme dalam Realitas Pesantren
Sebenarnya, tanpa menyebut istilah “organisme” sekalipun, para peneliti pesantren Indonesia sudah menggambarkan realitas ini. Zamakhsyari Dhofier dalam Tradisi Pesantren (1982) menyebut lima elemen utama pesantren: kiai, santri, masjid, pondok, dan kitab kuning. Kelima elemen ini bukan sekadar komponen yang bisa dirakit dan dibongkar. Mereka organ yang saling menghidupi. Jika masjid sepi dari pengajian, seluruh tubuh pesantren akan ikut melemah. Jika kiai kehilangan wibawa spiritual, jantung pesantren akan berhenti berdetak.
Metafora organisme tidak menciptakan realitas baru. Ia hanya memberi nama dan kerangka analisis untuk sesuatu yang sudah lama hidup di Nusantara.
Lalu, apa sebenarnya yang kami maksud dengan Organisme Pesantren?
Organisme Pesantren adalah cara pandang yang melihat pesantren sebagai entitas hidup. Ia lahir dari rahim kiai dan masyarakat, tumbuh melalui sanad dan nilai, bernapas dalam ekosistem pendidikan dan dakwah, beradaptasi terhadap perubahan zaman, dan dapat mengalami sakit atau mati jika tidak dirawat. Ia bukan sekadar mesin cetak ulama; ia makhluk pendidikan yang bernyawa.
Morgan memberi kita alatnya. Tapi alat itu baru bermakna ketika digunakan untuk memahami realitas yang kita cintai.
Penutup
Untuk yang bertanya soal landasan teori Organisme Pesantren, sekarang sudah jelas. Ini bukan karangan kosong. Ada tokohnya, ada bukunya, ada kajian akademiknya yang serius. Tetapi Morgan bukan nabi. Teorinya bukan kitab suci. Ia hanyalah alat bantu, seperti pisau bedah. Tergantung di tangan siapa, dan digunakan untuk operasi apa.
Kita berutang budi pada Morgan. Dari dialah kita belajar bahwa organisasi tidak harus dilihat dengan satu mata, dan bahwa metafora bukan sekadar permainan kata. Ia instrumen analisis yang bisa membuka pemikiran kita. Tetapi pada akhirnya, yang paling penting bukanlah Morgan-nya, melainkan pesantrennya. Karena di sanalah organisme itu benar-benar hidup. Wallāhu a‘lam. []
*Penulis buku Organisme Pesantren, Dakwah Model Canvas, The Essence of Islamic Leadership, Menjejaki Alam Filsafat, dan Menalar Manajemen Pendidikan Islam dari Worldview Islam ke Integrasi Ilmu.






















