Aceh Besar, Gontornews — Pondok Modern Al-Manar Aceh Besar, Senin (19/10/2026), menggelar sharing session bersama Praktisi Pemasaran dan Vokasi Ahmad Madani. Pimpinan Pesantren Modern Al-Manar, Dr Tgk H Ikram M Amin MPd, berharap kegiatan ini dapat memperkuat pengembangan budaya literasi dan publikasi digital di lingkungan pesantren.
“Kami berharap kegiatan berbagi pengetahuan ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan kompetensi para guru. Pesantren memiliki banyak pengalaman pendidikan yang bernilai, dan kemampuan menulis menjadi salah satu cara untuk mendokumentasikan serta memperluas manfaat pengalaman tersebut,” ungkap Tgk H Ikram M Amin, dalam rlis yang diterima gontornews.com.
“Teknologi digital hendaknya dimanfaatkan secara positif tanpa meninggalkan nilai-nilai pendidikan dan karakter yang menjadi identitas pesantren,” sambungnya.
Tgk Ikram M Amin menambahkan, penguatan literasi digital diharapkan tidak hanya meningkatkan kemampuan guru dalam menghasilkan tulisan, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya dokumentasi pengetahuan yang bermanfaat bagi pengembangan lembaga.
Dalam acara tersebut, Ahmad Madani mengungkapkan bahwa pesantren memiliki kekayaan pengalaman pendidikan yang layak dikenal masyarakat. Menurutnya, aktivitas pesantren seperti pembinaan karakter, latihan kepemimpinan, pengembangan keterampilan bahasa merupakan sumber informasi penting yang bisa disebarluaskan ke masyarakat.
“Publikasi digital pesantren tidak seharusnya berhenti pada dokumentasi foto atau laporan kegiatan. Para guru perlu didorong untuk menjelaskan nilai pendidikan, metode pembelajaran, serta pengalaman yang melatarbelakangi berbagai aktivitas tersebut,” kata Ahmad Madani kepada gontornews.com.
Kegiatan pidato misalnya, bukan sekadar aktivitas santri berbicara di depan umum. Di dalamnya terdapat proses pendidikan komunikasi, pembentukan keberanian, latihan tanggung jawab, dan pengembangan kemampuan menyampaikan gagasan.
Apabila pengalaman tersebut ditulis secara runtut dan informatif, masyarakat dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pendekatan pendidikan yang dikembangkan pesantren.
Alumni Gontor 2001 itu menekankan bahwa guru memiliki posisi strategis dalam membangun reputasi lembaga karena mereka merupakan pihak yang berinteraksi langsung dengan proses pendidikan sehari-hari.
“Melalui tulisan, pengalaman dan gagasan para guru dapat menjangkau pembaca di luar lingkungan pesantren,” kata Sekjen Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI) itu.
Untuk mendukung pengembangan kompetensi tersebut, Madani ‘menawarkan’ LinkedIn sebagai ruang membangun reputasi profesional guru, Kompasiana sebagai platform berbagi pemikiran dan refleksi pendidikan, serta website pesantren sebagai pusat dokumentasi pengetahuan kelembagaan. [Mohamad Deny Irawan]

























