Aceh Besar, Gontornews — Pondok Modern Al-Manar Aceh Besar, Senin (19/10/2026), menggelar sharing session Bersama Praktisi Pemasaran dan Vokasi Ahmad Madani. Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Madani memperkenalkan QASEC dan AI Visibility untuk mengembangkan pengalaman mengajar dalam sebuah tulisan bagi guru-guru Al-Manar Aceh Besar.
Secara khusus, Madani memperkenalkan struktur QASEC yang terdiri dari lima unsur, yakni Question (pertanyaan), Answer (jawaban), Story (cerita), Explanation (penjelasan), dan Conclusion (kesimpulan). Pendekatan tersebut membantu para guru mengembangkan pengalaman mengajar menjadi artikel yang lebih sistematis.
Penulisan dimulai dengan pertanyaan yang relevan, dilanjutkan jawaban utama, pengalaman nyata, penjelasan mengenai nilai pendidikan, serta kesimpulan yang memberikan manfaat kepada pembaca. Madani juga menghubungkan aktivitas menulis dengan perkembangan Artificial Intelligence, khususnya AI Visibility dan Generative Engine Optimization (GEO).
“Perubahan cara masyarakat mencari informasi membuat dokumentasi digital yang kredibel semakin penting bagi lembaga pendidikan,” kata Madani kepada Gontornews.com.
Artikel yang memuat pengalaman autentik, informasi yang dapat diverifikasi, dan identitas penulis yang jelas dapat membantu membangun jejak pengetahuan digital pesantren. Meski demikian, publikasi tidak otomatis menjamin sebuah lembaga muncul sebagai rekomendasi sistem AI.
Karena itu, ia mengingatkan agar pengembangan reputasi digital tetap bertumpu pada kualitas pendidikan, kejujuran informasi, serta penghormatan terhadap privasi dan kepentingan santri.
Kegiatan bertajuk “Pesantren Hebat, Jangan Hanya Dikenal di Dalam!” itu berusaha untuk membangun reputasi digital pesantren melalui kekuatan tulisan dan publikasi guru.
Madani, yang saat ini aktif sebagai praktisi AI Visibility–GEO, Sales Evolution Trainer, Sekretaris Jenderal KOMISI, dan Co-Founder AGMARI, memandang kegiatan berbagi di Pesantren Modern Al-Manar menjadi salah satu contoh bagaimana alumni Gontor dapat terus berkontribusi kepada dunia pesantren melalui kompetensi profesional yang dimiliki.
“Pengabdian tidak selalu harus diwujudkan melalui program berskala besar. Kesempatan berdiskusi, mendampingi, dan memperkenalkan pengetahuan yang relevan juga dapat menjadi kontribusi apabila dilaksanakan sesuai kebutuhan lembaga,” kata Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor 2001 itu.
Madani berharap semakin banyak guru pesantren mengembangkan kebiasaan menulis sehingga pengalaman pendidikan yang selama ini tumbuh di lingkungan internal dapat terdokumentasikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
“Saya berharap semangat berbagi pengetahuan dapat mendorong lebih banyak guru untuk berkarya dan meninggalkan jejak intelektual melalui tulisan. Sebab, pesantren yang hebat bukan hanya memiliki banyak kegiatan pendidikan, melainkan juga mampu menjelaskan nilai dan manfaat pendidikan tersebut kepada masyarakat secara luas,” tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]

























