Pasuruan, Gontornews — Sebanyak 33 mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Senin (19/10/2026), melakukan Studi Akademik (SA) ke Yayasan Al-Mustoffa Sukorejo Pasuruan. Dalam kesempatan ini, mahasiswi IQT UNIDA Gontor itu berkesempatan untuk mempelajari pengembangan metode pembelajaran dan pembinaan akhlak santri berbasis nilai-nilai Al-Qur’an.
Rombongan didampingi Ustadz Rochmad SThI MA PhD, Ustadzah Ella Safira Rahmania, Lc MAg, dan Ustadzah Dr Nindhya Ayomi Delahara SAg MPd. Kedatangan mahasiswa beserta rombongan UNIDA Gontor mendapatkan sambutan hangat dari pendiri Yayasan Al-Mustoffa, Ustadz Hikmatiar Pasha Lc MA.
Dalam sambutannya, Ustadz Hikmatiar menjelaskan pentingnya Studi Akademik sebagai sarana menghubungkan teori yang dipelajari di bangku perkuliahan dengan praktik pendidikan di tengah masyarakat. Menurutnya, pembelajaran tidak cukup berhenti pada penguasaan ilmu, tetapi harus mampu membentuk pribadi yang lebih baik.
“Ilmu yang bermanfaat bukan ketika kita mengajar, tetapi ketika bisa mengubah kita menjadi pribadi yang baik,” ungkap Ustadz Hikmatiar dalam rilis yang diterima Gontornews.com.
Sementara itu, Dosen Pembimbing Studi Akademik IQT UNIDA Gontor, Ustadz Rochmad menekankan pentingnya Studi Akademik sebagai sarana untuk memperluas wawasan peserta serta peran mereka dalam menghidupkan Living Qur’an di tengah masyarakat.
“Saya berharap, kegiatan tersebut dapat menumbuhkan semangat mahasiswi untuk mengembangkan potensi diri, khususnya kemampuan berpikir, melalui pengalaman belajar secara langsung di lapangan,” ujar Ustadz Rochmad kepada Gontornews.com.
Sebagai informasi, Yayasan Al-Mustoffa merupakan lembaga pendidikan Al-Qur’an yang resmi berdiri pada 21 Agustus 2025. Mereka menjadi Lembaga yang bergerak dalam mengembangkan kemandirian lembaga serta meningkatkan mutu pendidikan.
Lebih lanjut, Ustadz Hikmatiar menceritakan perjalanan yayasan dalam mengembangkan pembelajaran Al-Qur’an, terutama bagi anak-anak usia dini. Pengalaman mendidik anak berusia tiga tahun ke atas mendorongnya untuk mencari pendekatan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik.
Model Pendidikan
Pada tahap awal, Yayasan Al-Mustoffa menerapkan metode Qiraati. Namun, seiring berkembangnya kebutuhan pembelajaran, yayasan mulai merancang pendekatan sendiri dengan menjadikan ayat Al-Qur’an dan prinsip pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor sebagai pijakan.
“Pendekatan tersebut dikembangkan untuk membantu anak-anak mengenali dan mempelajari bacaan Al-Qur’an melalui proses belajar yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka,” kata Ustadzah Nindhya Ayomi Delahara, dosen pembimbing IQT UNIDA Gontor, kepada Gontornews.com.
Salah satu landasan yang digunakan Yayasan Al-Mustoffa Pasuruan adalah Surah Al-Isra’ ayat 36, khususnya kata inna as-sam‘a wal-abṣāra wal-af’idata, (pendengaran, pengelihatan, hati) sebagai pertanggungjawaban seorang manusia.
“Prinsip ini dipadukan dengan falsafah pendidikan Gontor, maka yang akan terdengar adalah: Apa yang kita dengar, lihat, dan rasakan adalah pendidikan,” jelas Ustadz Hikmatiar.
Menurut Alumnus Gontor 2004 itu, kedua prinsip tersebut memberikan pijakan untuk memahami proses belajar anak secara lebih menyeluruh. Jika pendengaran berperan dalam menerima dan merekam informasi, maka penglihatan membantu anak dalam mengamati serta meniru contoh yang diberikan guru.
“Proses tersebut kemudian dipadukan dengan tahapan pembelajaran yang meliputi opening, modelling, repetisi, evaluasi, comprehensive review, dan penutup,” imbuh Ketua Yayasan Cahaya Anak Hebat itu.
Melalui tahapan yang sistematis dan pengulangan yang terarah, anak-anak dibimbing untuk mendengar, mengamati, menirukan, dan mengulang bacaan Al-Qur’an secara bertahap. Pendekatan ini menjadikan proses pembelajaran lebih sesuai dengan karakteristik anak usia dini, bukan sekadar menuntut mereka menghafal materi.
Ustadz Hikmatiar juga menekankan bahwa keberhasilan pembelajaran sangat bergantung pada kemampuan guru memahami karakteristik peserta didik. “Tidak ada murid yang tidak bisa diajar, yang ada hanya murid yang belum mau belajar. Karena itu, setiap guru harus bisa menciptakan metodologi belajar yang sesuai dengan karakteristik anaknya,” paparnya.
Prinsip tersebut menjadi salah satu pertimbangan yayasan dalam mengembangkan pendekatan pembelajaran yang adaptif. Guru perlu memahami cara belajar anak, membangun ketertarikan mereka, dan menciptakan suasana belajar yang mendukung proses pembelajaran Al-Qur’an.
Standarisasi Mutu
Selain mengembangkan pembelajaran bagi santri, Yayasan Al-Mustoffa juga menerapkan enam langkah pembinaan guru untuk menjaga kualitas pengajaran. Seperti standarisasi mutu pengajar, munaqasyah atau ujian kompetensi pengajar, pelatihan metodologi secara berkala, praktik mengajar terbimbing, sertifikasi kompetensi mengajar, serta evaluasi bulanan.
Sistem pembinaan itu membuktikan bahwa peningkatan mutu pendidikan Al-Qur’an membutuhkan perhatian dua aspek penting yakni metode pembelajaran dan kompetensi pendidik. Keduanya perlu berjalan beriringan agar proses belajar juga mendukung pembentukan karakter dan akhlak santri.
“Pengalaman Yayasan Al-Mustoffa juga menunjukkan bahwa pengembangan lembaga pendidikan membutuhkan ketekunan, visi yang jelas, serta kesediaan untuk terus mengevaluasi dan memperbaiki proses pembelajaran,” pungkas Ustadzah Nindhya. [Mohamad Deny Irawan]

























