Pacitan, Gontornews — Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mengajak berbagai pihak untuk mulai menanam bakau sebagai bagian dari pencegahan dari ancaman bahaya tsunami dengan vegetasi. Dalam acara yang dilaksanakan di Pantai Soge Desa Sidomulyo, Ngadirejo, Pacitan tersebut, BNPB dan sejumlah elemen masyarakat menanam setidaknya 200 bibit tanaman bakau.
Secara total, ada 2000 bibit tanaman bakau yang akan ditanam di lokasi tersebut. Sebagian besar bibit berasal dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan.
Dalam keterangan persnya, Sekretaris Utama BNPB, Dr Lilik Kurniawan menjelaskan agenda ini merupakan upaya untuk membangun desa tangguh bencana tsunami. BNPB memiliki 10 indikator untuk membangun desa tangguh di desa tersebut dengan salah satunya melakukan pencegahan dengan vegetasi.
“Jangka panjangnya adalah membuat mitigasi berbasis vegetasi, salah satunya dengan penanaman mangrove,” ujar Lilik sebagaimana dilansir laman BNPB.
Tidak hanya bakau, Lilik menambahkan pihaknya juga akan menanam sejumlah tanaman keras di kawasan Pantai Soge. “Ini adalah upaya pemerintah melindungi masyarakat terhadap bahaya tsunami,” imbuhnya.
Saat tsunami terjadi, tanaman bakau merupakan penghalang alami di pinggir pantai sekaligus pemecah gelombang. Tidak hanya itu, tanaman tersebut juga bermanfaat untuk mencegah abrasi. Selain sebagai upaya penanggulangan bencana, penanaman tanaman bakau ini juga mendukung program adaptasi terhadap perubahan iklim.
Desa Sidomulyo sendiri merupakan satu dari 180 desa terpilih yang mendapatkan dukungan kesiapsiagaan terhadap bencana gempa bumi dan tsunami. Desa Sidomulyo, sambung BNPB, mendapatkan dukungan pendanaan dari Bank Dunia melalui program Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP). Pemerintah lantas menunjuk BNPB dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagai koordinator program tersebut.
Pada kesempatan itu pula, BNPB dan BMKG mengajak kepala pelaksana BPBD di 17 provinsi dan perwakilan pemerintah daerah serta BPBD kabupaten/kota untuk melihat pencapaian Desa Sidomulyo dalam membangun desa tangguh bencana (destana), khususnya dari ancaman bahaya gempa dan tsunami.
Sebanyak 10 indikator telah dilakukan warga masyarakat Desa Sidomulyo, di antaranya penilaian ketangguhan desa, penyusunan peta risiko desa berbasis partisipasi, peringatan dini berbasis komunitas, pencegahan struktural dan non-struktural hingga simulasi rencana evakuasi.
Dari kunjungan ini, BNPB mengharapkan pencapaian Desa Sidomulyo dapat dijadikan model dan ditiru sesuai karakteristik masing-masing daerah. [Mohamad Deny Irawan]
























