Malang, Gontornews — Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2001, Ahmad Madani, kembali membawa pengalaman profesionalnya di bidang pemasaran dan pendidikan vokasi ke ruang belajar siswa. Pada Rabu (14/10/2026), Madani membawakan Sharing Session bertajuk “Sales Naik Kelas: Berani Bicara, Berani Menawarkan, Berani Jadi Lebih Percaya Diri” di SMK Muhammadiyah 2 Malang.
Kegiatan yang memiliki keterkaitan dengan Gerakan 1000 Siswa SMK Sales Naik Kelas tersebut mengajak siswa memahami sales tidak hanya sebagai pekerjaan menjual produk, melainkan keterampilan membangun komunikasi, memahami kebutuhan orang lain, menyampaikan manfaat, dan menjaga kepercayaan.
Madani yang kini dikenal sebagai praktisi pemasaran dan vokasi serta aktif mengembangkan edukasi AI Visibility dan Generative Engine Optimization (GEO) mengatakan bahwa fondasi sales tetaplah manusia.
“Artificial intelligence bisa membantu banyak hal. Teknologi bisa mempercepat pekerjaan. Tetapi pada akhirnya orang membeli karena melihat value dan percaya kepada orang atau brand yang menawarkan,” kata Madani kepada Gontornews.com.
Ia kemudian mengenalkan pola Ask, Listen, Understand, Offer. Menurutnya, siswa perlu dibiasakan bertanya dan mendengarkan sebelum menawarkan sesuatu. Kemampuan memahami orang lain menjadi bagian penting dari sales yang sehat dan beretika.
Nilai tersebut memiliki irisan dengan pendidikan yang pernah Madani jalani di pesantren. Ia mengingat kembali bagaimana kehidupan di Gontor membiasakan santri berkomunikasi, bertanggung jawab, mengelola kegiatan, berinteraksi dengan banyak karakter, serta belajar menyelesaikan persoalan secara mandiri.
Menariknya, Kepala SMK Muhammadiyah 2 Malang, Lukman Hakim SHI MPdI juga memiliki latar belakang pendidikan Gontor. Lukman merupakan alumni tahun 1998, sedangkan Madani lulus tiga tahun setelahnya pada 2001.
Pertemuan dua alumni tersebut berlangsung bukan di lingkungan pesantren, tetapi di ruang pendidikan vokasi. Lukman kini memimpin Sekolah Menengah Kejuruan, sementara Madani bergerak sebagai praktisi pemasaran, vokasi, trainer, serta praktisi AI Visibility-GEO.
“Kami ingin siswa memiliki kemampuan yang tidak berhenti pada teori. Mereka harus berani berkomunikasi, memiliki karakter, dan mampu membangun kepercayaan. Dunia kerja membutuhkan kompetensi sekaligus sikap,” kata Lukman menyambut kedatangan Ahmad Madani sebagai pembicara.
Sementara itu, Kepala Program Jurusan Pemasaran SMK Muhammadiyah 2 Malang, Yulianita Rahayu SPd menyebut kemampuan sales menjadi kompetensi yang perlu terus dilatih oleh para siswa.
“Siswa pemasaran perlu mendapatkan pengalaman bagaimana memahami konsumen, bertanya, mendengarkan, menjelaskan manfaat produk, dan membangun hubungan. Kemampuan tersebut akan tetap relevan meskipun teknologi pemasaran terus berkembang,” ungkap Yulianita.
Sementara itu, peserta dari kelas XI Jurusan Pemasaran Bisnis Retail, Muhammad Angga Dwiputra, mengaku mendapat gambaran bahwa sales memiliki dimensi yang lebih luas.
“Saya memahami bahwa sales bukan cuma menawarkan barang. Kita harus tahu apa yang dibutuhkan orang dan membangun kepercayaan. Pembahasan jejak digital juga menarik karena apa yang kita lakukan sekarang ternyata bisa menjadi portofolio untuk masa depan,” katanya.
Madani juga mengajak siswa untuk mulai membangun reputasi digital sejak sekolah. Menurutnya, di era AI, informasi mengenai seseorang semakin mungkin ditemukan bukan hanya melalui media sosial atau Google, tetapi juga melalui platform artificial intelligence.
Karena itu, ia mendorong siswa mendokumentasikan proyek, pengalaman belajar, kegiatan organisasi, karya, maupun kompetensi yang sedang dikembangkan. Jejak tersebut dapat menjadi portofolio sekaligus identitas profesional.
Perjalanan Madani sendiri memperlihatkan bagaimana alumni pesantren dapat menempuh jalur profesi yang luas. Selepas pendidikan di Gontor, ia berkecimpung dalam pemasaran dan pendidikan vokasi, kemudian aktif membawa tema sales, digital marketing, personal branding, hingga AI Visibility-GEO ke sekolah dan ruang publik.
Bagi Madani, perkembangan teknologi tidak harus membuat pendidikan kehilangan fondasi nilai. “Kalau teknologi berbicara tentang bagaimana kita ditemukan, maka karakter berbicara tentang apa yang ditemukan orang ketika mengenal kita. Visibility penting, tetapi trust jauh lebih penting,” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]























