Ponorogo, Gontornews — Apakah pesantren cukup hanya mendidik santri agar rajin beribadah, mampu membaca Al-Qur’an, dan memiliki adab yang baik? Atau pesantren juga perlu membantu santri menemukan bakat, mengembangkan kreativitas, memahami teknologi, serta memiliki keberanian tampil di tengah masyarakat?
Pertanyaan tersebut menemukan salah satu jawabannya di Pesantren Darul Falah Sukorejo Ponorogo. Para santrinya mendapat kesempatan tampil dalam program Xpresi Kabaret TVRI Jawa Timur, sebuah ruang unjuk bakat dan kreativitas generasi muda yang menghadirkan berbagai bentuk seni pertunjukan.
Dalam kesempatan tersebut, santri Darul Falah tidak hanya menampilkan satu jenis kemampuan. Mereka membawa hadrah, tartil Al-Qur’an, Orchestra Darul Falah, tari kombinasi, Reog Ponorogo, musik akustik, choral speaking, hingga Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ).
Rangkaian penampilan itu menggambarkan satu pesan penting: kehidupan pesantren tidak harus dibatasi pada ruang kelas, masjid, dan aktivitas pembelajaran formal. Pendidikan juga dapat berlangsung melalui panggung, latihan, kerja sama, seni, budaya, dan proses menemukan potensi diri.
Bakat Beragam Santri
Setiap santri datang dengan kemampuan yang berbeda. Ada yang memiliki kemampuan dalam membaca Al-Qur’an, ada yang kuat dalam komunikasi, ada yang memiliki bakat musikal, seni pertunjukan, budaya, kepemimpinan, maupun kreativitas lainnya.
Karena itu, pendidikan pesantren memiliki tanggung jawab untuk tidak sekadar membentuk santri menjadi pribadi yang baik, tetapi juga membantu mereka mengenali potensi yang dimiliki.
Pengasuh Pesantren Darul Falah Sukorejo Ponorogo, Ustadz Reza Arif Ahmadi, alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2001, memandang bahwa pesantren harus mampu menjaga nilai-nilai utama pendidikan Islam sekaligus memahami tantangan zaman yang akan dihadapi para santri.
“Ibadah, adab, dan akhlak tetap menjadi fondasi utama. Tetapi setiap anak juga membawa potensi yang berbeda. Ada yang kuat dalam Al-Qur’an, seni, komunikasi, budaya, maupun bidang lainnya. Tugas pendidikan membantu mereka menemukan dan mengembangkan potensi tersebut dengan tetap memiliki nilai sebagai arah,” ujar Ustadz Reza dalam rilis yang diterima Gontornews.com.
Sebagai alumni Gontor tahun 2001, Ustadz Reza mengalami tradisi pendidikan pesantren yang tidak hanya mengajarkan ilmu melalui kelas, tetapi juga melalui kedisiplinan, kemandirian, organisasi, kepemimpinan, bahasa, tanggung jawab, serta berbagai aktivitas keseharian santri.
Semangat pendidikan tersebut kemudian menemukan bentuknya dalam pengembangan Darul Falah. Pesantren tidak hanya memperhatikan aktivitas ubudiyah dan pembentukan karakter, tetapi juga memberi ruang bagi kreativitas, seni, budaya, komunikasi, dan kecakapan yang dibutuhkan santri ketika kelak kembali ke masyarakat.
Panggung Sebagai Ruang Pendidikan
Apa yang terlihat di layar televisi mungkin hanya beberapa menit penampilan. Namun di baliknya terdapat proses yang panjang.
Santri harus berlatih, membagi waktu dengan kegiatan pesantren, menghafalkan bagian masing-masing, memperbaiki kesalahan, bekerja bersama teman, dan belajar menerima arahan. Proses tersebut justru menjadi bagian penting dari pendidikan karakter.
Guru Pesantren Darul Falah, Ustadzah Sahila Fikriya, menjelaskan bahwa sebuah pertunjukan tidak hanya berbicara tentang kemampuan seni.
“Yang terlihat ketika tampil mungkin hanya beberapa menit, tetapi proses menuju panggung itulah yang sangat mendidik. Mereka belajar disiplin, bekerja sama, menghargai teman, menerima koreksi, mengelola rasa gugup, dan menyelesaikan tanggung jawab. Semua itu adalah bagian dari pendidikan karakter,” jelas Sahila.
Orchestra, misalnya, mengajarkan bahwa setiap orang memiliki peran dan tidak dapat berjalan sendiri. Choral speaking membutuhkan kekompakan dan kemampuan mendengarkan. Reog membutuhkan koordinasi serta disiplin. MSQ membutuhkan pemahaman terhadap Al-Qur’an sekaligus kemampuan menyampaikan pesan kepada publik.
Dengan demikian, kreativitas tidak berada di luar pendidikan karakter. Justru melalui kreativitas, banyak nilai pendidikan dapat dipraktikkan secara nyata.
Salah satu penampilan yang menarik perhatian yaitu Reog Ponorogo. Kehadirannya bukan hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga membawa pesan bahwa pesantren dapat mengambil bagian dalam menjaga budaya daerah.
Di tengah kehidupan generasi muda yang semakin dekat dengan budaya global, media sosial, dan teknologi, pengetahuan mengenai identitas lokal menjadi semakin penting.
Modernitas tidak harus membuat seorang santri tercerabut dari akar budayanya. Sebaliknya, kemampuan menghadapi dunia modern justru akan semakin kuat ketika seseorang mengetahui identitas dan nilai yang menjadi pijakannya. Darul Falah ingin mempertemukan keduanya: santri yang siap menghadapi masa depan tetapi tetap mengenali akar budaya tempat mereka tumbuh. [Mohamad Deny Irawan]























