Yerusalem, Gontornews — Keputusan Presiden Donald Trump yang akan memindahkan Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem, merupakan sikap agresi tidak hanya terhadap Palestina tapi terhadap semua orang Arab dan semua Muslim. Pernyataan ini disampaikan Grand Mufti Yerusalem Muhammad Ahmad Hussein dalam laman yang dilansir wienerzeitung, Selasa (24/1).
Jika Kedubes AS nekad dipndahkan, kata Hussein, itu akan menjadi “serangan terhadap umat Muslim di seluruh dunia”.
”Janji untuk memindahkan kedutaan bukan hanya serangan terhadap warga Palestina, tapi serangan terhadap warga Arab dan Muslim, yang tidak akan tinggal diam,” kata Hussein dalam khutbah di Masjid al-Aqsha.
Sementara itu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengancam Palestina bisa membuat pengakuan Israel terbalik jika AS tetap pada sikapnya.
Abbas memperingatkan relokasi Kedutaan AS ke Yerusalem akan kehilangan legitimasi AS untuk berperan dalam menyelesaikan konflik. Abbas juga akan melakukan segala daya untuk mencegah proyek Trump itu.
Dalam pidatonya pada akhir Desember, ujar Menteri Luar Negeri AS John Kerry, Yerusalem harus menjadi ibukota dua negara dalam batas-batas sebelum Perang Enam Hari pada tahun 1967. Jika Trump melaksanakan rencananya, ujar Kerry, akan ada ancaman “ledakan mutlak di wilayah ini”
AS sejatinya tidak mengakui wilayah Yerusalem sebagai wilayah Israel dan menyatakan wilayah itu status-quo. Namun, Presiden Trump membuat perubahan yang pro-Israel dengan menjanjikan Yerusalem sebagai Ibukota Israel. [Ahmad Muhajir/Rus]

















