Ngawi, Gontornews — Kampus Putri Pascasarjana Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Mantingan, Ngawi, Rabu (18/08/2021) malam, menyelenggarakan kajian rutin Islamisasi Ilmu yang dinamakan “Taman Peradaban”.
“Seharusnya kajian ini telah dilakukan jauh hari. Namun padatnya kegiatan dan berbagai tanggung jawab mahasiswi pascasarjana menjadikan kajian tersebut ditunda untuk beberapa lama,” jelas Eva Sonia, bagian Pembinaan Intelektual Dewan Mahasiswi Pascasarjana UNIDA Putri.
Istilah “Taman Peradaban” terinspirasi dari kemajuan peradaban Islam pada Abad Pertengahan. Kala itu tradisi keilmuan Islam banyak melahirkan ilmuwan dan ulama. Hal ini terbukti dengan berkembangnya arsitektur Islam berupa bangunan-bangunan masjid, hiasan-hiasan kaligrafi yang indah, rumah sakit, sekolah-sekolah, jembatan raksasa, dan taman-taman wisata. Kesemuanya itu terbentuk dari tradisi intelektual para pelajar Muslim yang kesehariannya berguru ke pusat pembelajaran ilmu dengan mengkaji kitab-kitab dan berdiskusi. Tradisi semacam itu layak untuk dicopy paste mahasiswi pesantren dengan usaha dan harapan untuk dapat menghidupkan kembali tradisi intelektual Islam yang dahulu pernah ada.
Kajian ini diisi oleh Al-Ustadz Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH selaku Dekan Kulliyyatul Banat Universitas Darussalam Gontor Kampus Putri dengan tema “Islam and Secularism”. Tema tersebut sengaja diambil karena tidak banyak umat yang menyadari tantangan zaman yang ada di hadapan mereka. Sehingga tanpa disadari menuntut para pelajar untuk mempelajari berbagai bidang keilmuan bersistem sekuler. Tema ini pun diambil berdasarkan judul buku “Islam and Secularism” karya Syed Naquib Al-Attas, yang menurutnya problem utama yang dihadapi umat saat ini ialah ilmu.
Pentingnya kajian ini karena beberapa hal, di antaranya, pertama, Al-Attas merupakan filsuf besar yang reputasinya diakui oleh dunia. Kedua, secara akademis Al-Attas dibentuk oleh dua kultur yang berbeda, yakni Islam tradisional dan Barat modern. Perbedaan kultur tersebut menjadikan pandangan-pandangan Al-Attas kaya dengan berbagai literatur yang menambah bobot analisisnya terhadap suatu masalah. Ketiga, buku Islam and Secularism itu lahir dari berbagai masalah kontemporer yang ditemui Al-Attas sehingga isinya menjadi relevan bagi kajian dewasa ini.
Nurhadi menjelaskan bahwa sekularisasi berimplikasi sangat serius bagi kehidupan beragama dan kemanusiaan. Adanya sekularisasi menjadikan nilai-nilai spiritual yang ada dihapuskan, sehingga alam dilihat manusia hanya sebagai bahan eksploitasi untuk keperluan-keperluan duniawi. Pemikiran sekular inilah yang menyebabkan modernisasi menjadi mesin perusak ekosistem bumi. Sekularisasi sebagai proses filosofis begitu mendarah daging dalam peradaban Barat. Sehingga, filsafat sekular seakan telah menjadi identitas dari peradaban Barat tersebut.
Melalui kolonialisme dan neokolonialisme, Barat menyebarkan gagasan sekularnya melalui berbagai kawasan dunia yang ditaklukkannya. Melalui proses tersebut, kebudayaan Barat perlahan-lahan dianggap sebagai kebudayaan global yang menjadi ukuran kemajuan dalam berbagai aspek kehidupan. Kemudian Al-Attas menilai bahwa penyerapan nilai-nilai hidup Barat dalam berpikir, menilai dan meyakini sesuatu disebabkan karena rasa terpesona yang berlebihan dari sebagian orang terhadap kemajuan peradaban Barat dalam bidang sains dan teknologi.
Kajian ini hanya menjadi muqaddimah untuk kajian-kajian yang akan datang. Bukan hanya itu, sebagai upaya dalam pembinaan mental intelektual mahasiswi pascasarjana UNIDA Gontor Kampus Putri, mereka juga dituntut menjadi mentor kajian Islamisasi bagi mahasiswi Strata 1 dalam berbagai bidang keilmuan. “Tradisi ilmu semacam demikian harus menjadi budaya di universitas pesantren,” kata Nurhadi. Dengan demikian, adanya budaya Islamisasi Ilmu pengetahuan menjadi penting dan merupakan tolok ukur mahasiswi pesantren dalam menghadapi tantangan zaman. [Farah Khoirunnisa]


















