Tepi Barat, Gontornews — Otoritas Israel telah menyetujui dan akan kembali membangun sebanyak 6 ribu rumah bagi pemukim Israel di Tepi Barat. Hal itu datang menjelang kunjungan utusan AS Jared Kushner ke Israel untuk membahas rencana perdamaian Israel-Palestina.
Dikutip laman Aljazeera bahwa pengumuman yang disampaikan oleh seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya pada hari Rabu (31/7) menyebutkan, pembangunan rencananya akan dilakukan untuk Wilayah C Tepi Barat, yang berada di bawah kendali keamanan dan sipil Israel.
sekitar 60 persen dari wilayah yang akan dibangun tersebut berada di Tepi Barat, yaitu wilayah yang merupakan milik Palestina dalam perjanjian solusi dua negara.
Menurut Hukum Internasional, ppemukiman tersebut adalah ilegal dan akan menjadi batu sandungan utama bagi perjanjian perdamaian Israel-Palestina. Sebab, pemukiman dibangun di atas tanah Palestina yang nantinya akan menjadi bagian dari negara masa depan mereka.
Lebih dari 600.000 warga Israel tinggal di permukiman di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur yang diduduki. Mereka tinggal bersama sekitar tiga juta orang Palestina.
Sementara itu Israel sendiri tidak pernah setuju memberikan izin untuk pembangunan bagi warga Palestina di daerah itu.
Pada tahun 2016, kabinet Israel menyetujui rencana pembangunan 5.000 unit perumahan untuk Palestina di daerah Qalqilia di Tepi Barat, tetapi oposisi sengit dari politisi sayap kanan dan pemimpin pemukim menggagalkan rencana tersebut.
AS mengisyaratkan pihaknya bisa mendukung Israel menjaga beberapa permukiman di bawah kesepakatan perdamaian di masa depan.
Harian Israel Yediot Ahronot, menyatakan, rencananya dalam kunjungannya Kushner mengatakan tidak akan menyebutkan solusi dua negara, sebab arttinya negara akan terbagi, untuk Israel dan untuk Palestina.
Kushner juga direncanakan akan mengunjungi lima negara lain di Timur Tengah pekan ini.
Kunjungan itu dilakukan menjelang KTT perdamaian Israel-Palestina yang direncanakan oleh pemerintahan Trump sebagai tuan rumah di Camp David sebelum pemilihan September.[Devi Lusianawati]



















