Gaza City, Gontornews — Militer Israel meluncurkan serangkaian serangan udara terhadap posisi Palestina di Gaza pada hari Selasa (29/5) setelah rentetan tembakan roket dari Jalur Gaza.
Setidaknya satu pangkalan milik Hamas dan empat milik Jihad Islam diserang oleh Israel, sumber keamanan mengatakan kepada kantor berita AFP.
Serangan itu terjadi setelah tentara Israel mengatakan para pejuang Palestina berada di belakang “rentetan proyektil” yang ditembakkan dari Gaza ke Israel selatan.
Para pejabat militer mengatakan, sistem pertahanan udara Iron Dome negara itu mencegat beberapa dari 30 roket dan mortir yang ditembakkan ke Israel. Tidak ada laporan cedera atau kerusakan di Israel.
“Tidak ada negara di dunia yang akan atau harus menerima ancaman semacam itu terhadap penduduk sipilnya. Kami juga tidak,” Emmanuel Nahshon, juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, menulis di Twitter.
Hanya beberapa jam setelah serangan Israel di Gaza, sirene terdengar di selatan, harian Haaretz Israel melaporkan.
Pasukan Israel mengatakan di Twitter bahwa mereka telah mencegat “beberapa peluncuran proyektil”.
Insiden itu terjadi sehari setelah pasukan Israel membunuh seorang Palestina yang diduga mendekati perbatasan Gaza dengan Israel, dan dua hari setelah tembakan tank Israel menewaskan tiga orang dalam serangan terhadap sebuah pos pengamatan militer milik pejuang Jihad Islam.
Serangan itu terjadi setelah Jihad Islam bersumpah untuk membalas dendam setelah anggotanya tewas.
Seorang pemimpin Jihad Islam di Gaza mengatakan pada hari Selasa “selama ada pendudukan, perlawanan adalah hak yang sah untuk rakyat Palestina”.
“Israel bertahan dengan agresivitasnya, kami tetap pada dua opsi: protes dan perlawanan rakyat menanggapi agresi Zionis,” kata Khaled al-Batsh kepada The Associated Press.
Lebih dari dua juta orang Palestina terkurung di Jalur Gaza, daerah kantong pantai yang sempit.
Israel menarik pasukan dan pemukimnya dari Gaza pada 2005 tetapi, karena alasan keamanan, mempertahankan kontrol ketat atas perbatasan darat dan lautnya.
Mesir juga membatasi pergerakan masuk dan keluar Gaza di perbatasannya.
Perundingan perdamaian antara Israel dan Palestina telah terhenti sejak 2014 dan pemukiman Israel di wilayah pendudukan Palestina makin meluas. [Rusdiono Mukri]



















