Menopause adalah proses biologis yang terjadi pada perempuan dengan rentan usia 40-an atau 50-an. Menopause Ini juga menandai akhir dari siklus menstruasi sehingga membawa perubahan pada keseimbangan hormon perempuan.
Untuk itu, perlu bagi kaum hawa memahami berbagai tahapan menopause dan pengaruhnya terhadap tidur di bawah ini.
Dikutip dari medicaldaily bahwa setidaknya ada tiga tahapan yang perlu diketahui dalam memahami Menopaus.
Pertama adalah Pra-menopause. Dalam fase ini hormon yang meningkatkan tidur seperti estrogen dan progesteron mulai berkurang. Perubahan ini kemudian menyebabkan sakit kepala, kram, kecemasan, suasana hati yang gundah dan yang terutama kesulitan tidur.
Temuan ilmiah yang dirilis oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada 2017, yang mempelajari mengenai aktivitas tidur dan kualitas tidur perempuan, menemukan bahwa hampir sepertiga tidur Perempuan di bawah rata-rata tujuh jam setiap malam.
Penemuan itu juga menjelaskan bahwa hampir 17 persen perempuan pra-menopause mengalami kesulitan tidur secara teratur selama empat kali atau lebih dalam seminggu. Seperempat dari perempuan itu mengalami kesulitan tidur di malam hari dan hampir 47 persen merasa tidak nyaman ketika mereka bangun setidaknya hal itu akan terasa empat hari dalam seminggu.
Kedua adalah Perimenopause. Perimenopause disebut juga sebagai tahap transisi. Tahapan Ini biasanya dimulai ketika seorang perempuan berusia 40-an.
Periode menopause ini biasanya berlangsung antara tiga hingga lima tahun dan terkadang memperpanjang hingga 10 tahun.
Gejala-gejala menopausal mulai terlihat di seluruh tahap perimenopausal ketika kadar hormon yaitu estrogen, progesteron, dan testosteron menurun secara signifikan.
Gejala-gejala seperti hot flashes, keringat malam, manifes dan sakit kepala bermanifestasi, dan pola tidur serta kinerja yang terjaga Alan terganggu.
Menurut CDC, masalah tidur meningkat selama perimenopause.
Saat ini, 56 persen tidur kurang dari tujuh jam rata-rata di malam hari. Hampir seperempatnya mengalami kesulitan tidur selama tahap perimenopause. Lebih dari 30 persen mengklaim mereka kesulitan tidur dan bangun dengan perasaan letih.
Tahapan Ketiga adalah Pasca menopause. Ketika seorang tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut, make saat itu ia diketahui telah mencapai tahap menopause dan setelah itu periode ini disebut periode pasca-menopause.
Selama perubahan ini, progesteron, hormon yang menyebabkan tidur, tidak lagi diproduksi. Tetapi ketika fluktuasi mereda setelah menopause, Estrogen akan mulai berproduksi lagi dalam jumlah rendah.
Gejala menopause juga mereda selama fase ini. Cara yang sama dengan masalah tidur dan insomnia, kualitas tidur perempuan perlahan membaik ketika ketidakseimbangan hormon membaik.
Sementara beberapa perempuan menunjukkan peningkatan tidur pasca-menopause namun ada juga beberapa yang tidak sejak transisi. Gejala tersebut bervariasi dari perempuan satu ke perempuan lainnya.
Selain itu penemuan CDC juga menjelaskan bahwa pada masa pasca-menopause, masih ada wanita yang mengalami kesulitan tidur.
Selama tahap ini juga sekitar 55,1 persen perempuan yang bisa tidur dan bangun dengan tenang setidaknya empat kali seminggu.[Devi Lusianawati]




















