Gaza City, Gontornews – Sebanyak dua remaja Palestina tewas setelah ditembak tentara Israel dalam aksi protes di sepanjang pagar perbatasan Israel-Gaza, Jumat (6/9). Selain itu 76 orang lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang dilancarkan oleh tentara Israel.
Otoritas kesehatan Gaza mengatakan, korban tewas atas nama Ali al-Ashqar (17) dan Khaled al-Ribie (14). Keduanya tewas setelah ditembak di bagian dada oleh polisi Israel dalam aksi protes yang diikuti oleh ribuan warga Palestina di sekitar pagar perbatasan.
Juru bicara Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, Ashraf al-Qidra mengatakan kepada Aljazeera bahwa 76 orang yang terluka oleh tembakan Israel, 45 di antaranya telah menjadi sasaran.
“Sebagian besar korban menderita luka bagian atas yang mengindikasikan niat untuk membunuh,” katanya, seperti yang dikutip Aljazeera.
Sebanyak lebih dari 5.000 warga Palestina berpartisipasi dalam aksi protes yang diadakan pada hari Jumat. Sedangkan Tentara Israel mengatakan jika jumlah peserta yang ikut lebih tinggi. Mereka mengatakan 6.200 orang berkumpul di beberapa titik di sepanjang perbatasan dengan Israel.
Aksi protes yang digelar setiap hari Jumat itu merupakan aksi yang diorganisir langsung oleh Hamas yang telah memerintah Jalur Gaza sejak 2006.
Ghazi Hamad, seorang pejabat senior Hamas di Gaza, mengatakan bahwa Israel memiliki kebijakan untuk menargetkan para pemrotes Palestina. Akan tetapi tindakan terhadap pemrotes itu seringkali terkait dengan situasi politik antara Israel dan Hamas.
Hamad menunjukkan bahwa pembunuhan yang terjadi pada hari Jumat kemarin dan jumlah korban yang tinggi merupakan indikasi dari kurangnya pemahaman politik antara Israel dan Hamas.
“Ketika tidak ada kesepakatan atau kesepahaman politik antara Hamas dan Israel, seperti yang terjadi sekarang, perbatasan menjadi tegang dan Israel sering meningkatkan reaksi mematikannya,” katanya.
Sementara itu, salah seorang Palestina yang tidak ingin diketahui namanya mengatakan, dirinya secara rutin ikut dalam aksi demonstrasi dan ia mengatakan bahwa sebagian besar orang ambil bagian karena mereka dan keluarga mereka merasakan korban besar dari blokade ekonomi, dan juga dari penutupan perbatasan yang melintasi antara Gaza dan Mesir.
“Orang-orang kehilangan harapan. Hanya ada keputusasaan dan kesengsaraan di sekitar mereka,” katanya.[Devi Lusianawati]






















