Riyadh, Gontornews — Arab Saudi ingin menghindari perang di wilayah itu tapi siap menanggapi dengan “kekuatan penuh dan tekad” jika diserang.
Pekan lalu instalasi minyak Saudi diserang. Saudi menuduh Iran memerintahkan serangan drone pada hari Selasa di dua stasiun pompa minyak Saudi, yang diklaim oleh kelompok Houthi Yaman.
Serangan itu terjadi dua hari setelah empat kapal, termasuk dua kapal tanker minyak Saudi, disabotase di lepas pantai Uni Emirat Arab (UEA).
Namun Iran membantah pihaknya berada di balik serangan-serangan itu.
“Kerajaan Arab Saudi tidak menginginkan perang di kawasan itu dan juga tidak mengusahakan hal itu,” kata Menteri Negara Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, pada konferensi pers pada hari Ahad (19/5).
“Kami akan melakukan apa yang dapat dilakukan untuk mencegah perang dan pada saat yang sama menegaskan kembali bahwa jika pihak lain memilih perang, kerajaan akan menanggapi dengan semua kekuatan dan tekad.”
Raja Arab Saudi Salman pada hari Ahad mengundang para pemimpin Arab dan Teluk untuk mengadakan KTT darurat di Mekkah pada 30 Mei untuk membahas implikasi dari serangan itu.
“Keadaan kritis saat ini memerlukan sikap Arab dan Teluk yang seragam terhadap tantangan dan risiko yang menimpa,” kata kementerian luar negeri UEA dalam sebuah pernyataan.
Sekutu Muslim Sunni Arab Saudi, UEA, tidak menyalahkan siapa pun atas operasi kapal tanker itu, sambil menunggu penyelidikan.
Tidak ada yang mengklaim bertanggung jawab, tetapi dua sumber pemerintah AS mengatakan pekan lalu bahwa para pejabat AS percaya Iran telah mendorong kelompok Houthi atau milisi Syiah yang berbasis di Irak untuk melaksanakannya. [RM]



















