0pNatuna, baru-baru ini menjadi wilayah yang santer disebut karena adanya konflik antara Cina, Indonesia dan Jepang. Natuna, ternyata selain memiliki kekayaan alam, juga menyuguhkan pemandangan yang mempesona, terutama wisata pantainya.
Pulau Natuna merupakan gugus kepulauan, yang secara administratif masih termasuk wilayah Kepulauan Riau. Pulau ini dihuni oleh sekitar 69 ribu jiwa, berdasar atas sensus penduduk pada 2010 lalu. Natuna berada di tengah perairan Selat Karimata.
Di Kepulauan Natuna, kota utamanya bernama Ranai. Kota ini berada di Pulau Bunguran; sebuah pulau terbesar di antara pulau lain seperti Sedanu, Laut, Bintang, Jemasa, dan Serasan. Karena letak kota Ranai di tepi pantai; maka bila kita berada di sana, lautan lepaslah yang akan menjadi panoramanya.
Namun demikian, tak banyak orang yang menjejakkan kaki di Natuna. Maklum, gugusan pulau yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) itu termasuk salah satu wilayah terluar Indonesia. Meski terletak di ujung utara negeri, Natuna menawarkan tempat wisata yang luar biasa memukau. Bagi Anda yang berencana pelesiran, Natuna layak masuk daftar tempat yang patut disinggahi.
Natuna, yang dicomot dari bahasa Belanda natunae yang berarti alami, letaknya menjorok ke Laut China Selatan, mendekati Kepulauan. Adalah Spratly yang jadi rebutan lima negara: China, Vietnam, Filipina, Malaysia, serta Brunei Darussalam. Karena posisi kepulauan ini terisolasi di tengah laut luas, akses transportasi dari dan ke Natuna hanya jalur laut dan udara.
Transportasi laut menjadi sarana angkut paling ekonomis untuk mencapai wilayah Natuna. Dari Jakarta atau Surabaya, bisa menumpang Kapal Motor (KM) Bukit Raya milik PT Pelni. Butuh waktu empat hari dari Ibukota untuk lego jangkar di kepulauan yang kaya minyak dan gas tersebut. Tapi, bagi yang ingin cepat sampai ke Natuna, bisa menggunakan pesawat terbang.
Selain pantainya yang cantik, Natuna juga ada Gunung Ranai yang memiliki ketinggian 1.035 meter di atas permukaan laut bisa menjadi objek pendakian yang menarik. Meski tidak terlalu tinggi, Gunung Ranai memiliki gradasi jenis tanaman yang memperlihatkan tipe-tipe vegetasi seperti yang biasa ditemui di gunung yang tinggi. Misalnya, meranti, rasamala, keruing, dan turi.
Gunung Ranai bukanlah objek wisata satu-satunya di Pulau Bunguran. Sepanjang perjalanan dari Bandara Ranai ke Kota Ranai, ibukota Kabupaten Natuna, wisatawan bakal disuguhi pantai nan indah, dengan batu-batu berukuran raksasa berwarna hitam dengan arsiran kelabu. Bebatuan seukuran rumah merupakan muntahan dari perut Gunung Ranai yang meletus sangat hebat jutaan tahun lalu.
Pantai-pantai di Pulau Bunguran juga tidak kalah indah. Dengan pasir yang putih dan lembut serta air laut yang hijau dan tenang, sangat cocok buat yang senang berenang di laut atau sekadar menikmati pemandangan pantai.
Ada juga Pantai Kencana yang memiliki panjang pantai juga amat lebar. Sepanjang pantai, pohon kelapa berbaris rapi memberikan keteduhan. Pemandangan semakin eksotis lantaran Pantai Kencana berlatar belakang Gunung Ranai. Penduduk setempat menamai pantai ini Pantai Stres. Sebab, bersantai di pantai itu efektif untuk menghilangkan stres.
Selain wisata alam, Pulau Bunguran juga punya tempat wisat religi, yaitu Masjid Agung Natuna. Yang menarik, arsitekturnya sangat megah dan indah. Lanskap tempat ibadah umat muslim yang berada persis di kaki Gunung Ranai ini juga makin menambah keindahan Masjid Agung Natuna.
Proses pembangunan Masjid Agung Natuna direncanakan sejak tanggal 13 Agustus 2006, sejak Bupati Kabupaten Natuna masih dipegang Daeng Rusnadi. Setelah melalui proses perencanaan yang disesuaikan dengan arti filosofi dari pembangunan Masjid Raya dan Komplek Gerbang Utaraku, proses pembangunan fisik dimulai dengan peletakan batu pertama pada 4 Mei 2007.
Berada di titik pusat Kompleks Natuna Gerbang Utaraku (NGU), tak butuh waktu lama untuk sampai ke lokasi ini. Dari bandara Lanud Ranai hanya butuh waktu sekitar 15 menit dengan kendaraan. Lokasinya berada di Jalan Datuk Kaya Wan Muhamad Benteng arah dari Ranai menuju ke Pantai Sepempang.
Namun kendati di bangun dengan megah, mesjid ini jarang sekali terisi penuh saat kegiatan keagamaan karena kapasitasnya sangat besar. Bahkan saat momen salat Idul Fitri sekalipun.
Ornamen pintu Masjid Raya Natuna mengambil inspirasi dari Al’quran. Kubahnya mirip kubah Taj Mahal di India. Makna dekoratif yang muncul dari bangunan masjid ini memperlihatkan bahwa gedung tersebut adalah bangunan Islami. Masjid Raya Natuna memiliki ruang dalam yang sangat luas.
Dari data yang dirilis Wikipedia, bagian tengahnya diterangi oleh cahaya alami yang bersumber dari kubah masjid. Bagian tepi pada lantai satu yang terteduhi lantai dua cukup gelap. Untuk meneranginya dibuat bukaan berupa karawang yang terletak di atas pintu masuk yang memilliki dimensi cukup besar. Ruangan pada bagian ini diterangi oleh sedikit cahaya dari atas layaknya ruang-ruang gotik. Dari segi bentuk, pintu masuk ini memiliki geometrika lengkung yang bagian atasnya lancip.
Dua pintu utama yang terletak di sisi kiri dan kanan gedung menghadap ke kiblat, nampak mengarahkan nuansa ruang itu menjadi terfokus pada sumber yang seakan nampak ibaratkan cahaya Ilahi.
Jadi bagi pengunjung yang ingin menikmati keindahan pantai di Natuna, ada baiknya singgah di Masjid Raya Natuna untuk menghadap Ilah Rabbi, agar lebih dekat kepada Allah SWT.
Selain masjid, ada juga museum Sri Serindit. Di dalanya terdapat koleksi aneka barang bersejarah. Seperti kumpulan harta benda hasil temuan masyarakat setempat pada seonggok kapal bekas Perang Dunia II yang tenggelam di dasar laut. Harta benda tersebut, dikumpulkan lalu dijadikan koleksi di museum ini.
Wisata Natuna tak lengkap bila mengabaikan kuliner khas setempat. Di sana, ada makanan yang bernama Kernas dan Lempa. Kernas merupakan makanan berbahan ikan tongkol dan diolah menyerupai gorengan. Warna makanan ini hitam cukup pekat. Pelengkapnya, yaitu berupa sambal pedas nan nikmat. Adapun Lempa merupakan penganan tradisional yang mirip dengan lemper, namun isinya berupa daging ikan tongkol. [fath]




















