Tunis, Gontornews — Ketua Tunisia’s Patriotic Construction Party, Riyad Suaybi, memuji perlawanan Turki terhadap serangan Amerika Serikat (AS) yang dilakukan baru-baru ini.
“Sikap Turki adalah model bagi semua orang di wilayah ini. Ini menjadi contoh bagi mereka yang menuntut kemerdekaan dari AS dan kekuatan asing lainnya,” jelasnya seperti dikutip Anadolu, Kamis (16/8).
Menurut Suaybi, reaksi Turki tersebut didasarkan pada semangat persatuan yang berasal dari tanggung jawab nasional dan ikatan budaya dan agama. Selain itu, Ankara bertindak dengan keinginan nasional untuk melindungi kedaulatannya.
“Langkah-langkah yang diambil Turki, terlepas dari tantangan ekonomi yang dihadapinya, sejalan dengan kedaulatan dan kepentingan nasionalnya,”jelas Suaybi. Turki, kata Suaybi, telah mengadopsi lebih banyak kebijakan independen dan otentik, asing dan domestik sejak Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) Presiden Recep Tayyip Erdogan berkuasa pada 2002.
“Bagi Washington, Turki atau negara lain di Timur Tengah tidak dapat menetapkan kebijakan luar negerinya sendiri,”jelasnya. Lanjut Suaybi berpendapat, perilaku baru-baru ini di Washington telah membuktikan hal ini.
Suaybi juga mengecam kenaikan tarif AS atas impor baja Turki. “Ini adalah inisiatif menggurui yang dilakukan AS, yang Presiden AS Donald Trump mencoba memaksakan di Timur Tengah dan Afrika Utara. Namun Ankara menolak untuk bermain dengan aturan Washington,” ungkapnya.
Lanjut Suaybi mendesak Turki untuk meningkatkan hubungannya dengan kelompok negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan) yang dapat menyebabkan perubahan geostrategis besar di masa depan.
Dikatakannya, dunia Arab terus berjuang dengan tirani dan sektarianisme membuatnya rentan terhadap ancaman intervensi asing. Tanpa menyebut negara tertentu, Suaybi mengatakan bahwa di negara-negara Arab “tertentu” terdapat anggota yang disebut “poros moderat” yang telah membuka pintu bagi intervensi asing di kawasan tersebut. [Muhammad Khaerul Muttaqien]


















