Istanbul, Gontornews — Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor) mengambil bagian dalam 13th International Bediuzzaman Symposium yang mengusung tema “Qur’anic Solutions to Global Crises”. Symposium yang diselenggarakan oleh Istanbul Foundation ini menjadi wadah pertemuan akademisi, peneliti, intelektual, serta pemerhati al-Qur’an dari berbagai negara. Lebih dari 60 negara terlibat dalam forum tersebut untuk membahas beragam persoalan global melalui pendekatan Qur’ani.
Dalam forum ini, UNIDA Gontor diwakili oleh sejumlah akademisi dan mahasiswa Pascasarjana. Al-Ustadz Prof Dr KH Hamid Fahmy Zarkasyi MAEd MPhil, selaku Rektor UNIDA Gontor, hadir sebagai tamu undangan khusus atas undangan langsung dari pihak penyelenggara.
Dalam rangkaian symposium, Prof Hamid dipercaya sebagai salah satu chair pada panel akademik. Peran itu menjadi bagian dari kontribusi UNIDA Gontor dalam memperkaya dialog akademik yang mempertemukan pemikiran dari berbagai negara dan latar belakang keilmuan.
Selain rektor, akademisi dan mahasiswa UNIDA Gontor juga mengambil bagian sebagai presenter pada sejumlah panel akademik. Delegasi tersebut terdiri atas Ustadz Prof Dr Sujiat Zubaidi MAg, Ustadz Dr Moh Isom Mudin SThI MUd, Ustadz Assoc. Prof Dr Syamsuri SHI MA, Azra Mahira Muzhaffar, serta Chandra Dwisetyo, mahasiswa Pascasarjana UNIDA Gontor, seperti dilansir unida.gontor.ac.id.
Keterlibatan para delegasi tersebut memperlihatkan bahwa kehadiran UNIDA Gontor dalam symposium tidak sebatas sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian dari komunitas akademik yang aktif menyampaikan gagasan dan perspektif dalam diskursus internasional. Hal ini sekaligus memperkuat posisi universitas dalam membangun jejaring keilmuan serta memperluas ruang pertukaran gagasan dengan akademisi dari berbagai negara.

Kegiatan akademik internasional ini pun berlangsung pada 4–6 Oktober 2026, di Atatürk Kültür Merkezi dan Pullman Hotel Bahçelievler, Istanbul, Turki. Tema “Qur’anic Solutions to Global Crises” berangkat dari pemikiran bahwa berbagai persoalan dunia tidak hanya berkaitan dengan aspek material, politik, ekonomi, maupun perkembangan teknologi.

Secara keseluruhan,13th International Bediuzzaman Symposium menerima sebanyak 668 abstrak dari 60 negara yang berasal dari 448 institusi internasional. Setelah melalui tahapan seleksi, sebanyak 262 makalah dari 37 negara ditetapkan masuk dalam program akhir symposium.
Rangkaian kegiatan akademik dilaksanakan dalam 11 ruang atau sesi paralel dengan total 68 sesi, yang terdiri atas 58 sesi luring dan 10 sesi daring. Presentasi akademik disampaikan dalam beberapa bahasa, antara lain Turki, Arab, Inggris, dan Rusia.
Partisipasi dalam forum internasional menjadi salah satu bentuk penguatan internasionalisasi UNIDA Gontor. Para delegasi memperoleh kesempatan untuk mempresentasikan gagasan sekaligus berdialog secara langsung dengan akademisi dan peneliti dari berbagai negara. Dari Indonesia, sejumlah akademisi dan peneliti dari berbagai institusi juga hadir sebagai presenter, di antaranya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Nursemesta Jakarta, serta sejumlah institusi lainnya.
Keikutsertaan UNIDA Gontor dalam symposium tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian agenda perjalanan delegasi universitas di Turki yang berlangsung selama kurang lebih sepuluh hari. Hingga 6 Oktober 2026, perjalanan telah memasuki hari kelima dan masih dilanjutkan dengan sejumlah agenda akademik dan kelembagaan lainnya.
Melalui keterlibatan dalam forum akademik internasional ini, UNIDA Gontor terus memperluas kontribusinya dalam percakapan keilmuan global. Sebagai Universitas Islam Terbaik, UNIDA Gontor berkomitmen menghadirkan perspektif Islam dan nilai-nilai al-Qur’an dalam pembahasan berbagai persoalan kemanusiaan dan tantangan peradaban kontemporer.
Partisipasi tersebut sekaligus mencerminkan upaya UNIDA Gontor dalam memperkuat jejaring akademik internasional, meningkatkan kontribusi sivitas akademika dalam forum global, serta mengembangkan tradisi keilmuan yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Ustadz Eko Nur Cahyo PhD, selaku Kepala Biro Kerjasama dan Urusan Internasional (BKUI) UNIDA Gontor menjelaskan bahwa UNIDA Gontor tidak hanya mengejar citra global, tetapi menawarkan model pendidikan tinggi pesantren yang “bermutu dan berarti”.
Kepada Gontornews.com ia menambahkan dalam wawancara eksklusif Majalah Gontor Edisi Khusus UNIDA Gontor bahwa “nilai jual” lulusan UNIDA Gontor terletak pada kombinasi yang jarang dimiliki kampus lain yakni kuat dalam ilmu akademik, hidup dalam sistem pesantren, memiliki adab dan karakter, menguasai Bahasa Arab sebagai akses ke turats dan studi Islam, menguasai Bahasa Inggris sebagai akses ke ilmu modern dan dunia global, serta membawa model integrasi ilmu yang khas.
Dengan demikian, UNIDA Gontor terus meneguhkan perannya sebagai Universitas Islam Terbaik yang aktif dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan dialog peradaban di tingkat internasional. [Edithya Miranti]






















