Yogyakarta, Gontornews — Kegiatan Studi Pengayaan Lapangan (SPL) di Masjid Jogokariyan, Yogyakarta, yang berlangsung pada Ahad (4/10/2026) diikuti oleh sejumlah mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT), Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor). Dimulai pukul 09.00 WIB, SPL ini pun ditujukan menjadi sarana bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman serta pemahaman langsung mengenai pengelolaan masjid berbasis masyarakat.
Kegiatan ini menghadirkan Muhammad Dimas Fibran, selaku Bendahara 1 Takmir Masjid Jogokariyan, sebagai pemateri. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai ideologi, konsep, sistem, dan pola manajemen kemasjidan yang dikembangkan di Masjid Jogokariyan.
Materi yang disampaikan tidak hanya berkaitan dengan aspek administrasi dan pengelolaan fasilitas, tetapi juga menyentuh bagaimana masjid dapat mengambil peran strategis dalam membangun kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat.
Dalam pemaparannya, dilansir unida.gontor.ac.id, Muhammad Dimas Fibran menjelaskan bahwa upaya memakmurkan masjid tidak cukup hanya dengan memperbaiki bangunan maupun meningkatkan fasilitas fisik. Persoalan rendahnya partisipasi jamaah dalam shalat berjamaah juga perlu dipahami melalui berbagai aspek, termasuk ideologi, teknis pelaksanaan, dan manajemen. Takmir dituntut untuk mampu mengenali kondisi masyarakat serta memahami kebutuhan jamaah agar program yang dirancang benar-benar memberikan manfaat.
Menurutnya, masjid seharusnya diposisikan sebagai ruang yang mampu mempertemukan berbagai unsur masyarakat. Keberadaan masjid tidak berhenti pada fungsi tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi pusat pembinaan, pelayanan, pemberdayaan, dan penguatan hubungan sosial. Pandangan tersebut menjadi salah satu hal penting yang dipelajari mahasiswa selama mengikuti kegiatan SPL di Masjid Jogokariyan.
Pembahasan juga menyoroti pentingnya ketersediaan data jamaah sebagai dasar dalam menentukan strategi dakwah dan penyusunan kegiatan masjid. Pengurus perlu mengetahui karakteristik masyarakat, kebutuhan lingkungan, serta bentuk kegiatan yang sesuai dengan kondisi jamaah.
Selain itu, pengelolaan anggaran juga perlu diarahkan secara tepat agar dapat mendukung berbagai program yang mendorong keterlibatan masyarakat dalam kegiatan masjid.
Masjid juga diharapkan mampu menghadirkan suasana yang terbuka dan nyaman bagi seluruh kelompok masyarakat, termasuk anak-anak. Penyediaan fasilitas dan kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan mereka menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan masyarakat dengan masjid sejak dini. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan masjid membutuhkan perhatian terhadap aspek pelayanan sekaligus pemberdayaan masyarakat.
Dalam perspektif sejarah Islam, fungsi masjid sebagai pusat kehidupan umat telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Masjid tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga memiliki peran dalam membangun persaudaraan dan menyatukan umat. Nilai tersebut kemudian menjadi salah satu perspektif yang relevan dalam memahami perkembangan sistem pengelolaan Masjid Jogokariyan yang mulai ditata secara lebih sistematis sejak awal tahun 2000-an.

Bagi mahasiswa IQT, pengalaman lapangan tersebut memberikan gambaran bahwa kajian Al-Qur’an dan tafsir memiliki keterkaitan dengan realitas kehidupan masyarakat. Nilai-nilai keislaman dapat diwujudkan melalui pengelolaan lembaga keumatan yang mampu memberikan pelayanan dan kemanfaatan secara nyata. Hal ini sejalan dengan upaya Universitas Islam Terbaik dalam membekali mahasiswa dengan wawasan keilmuan sekaligus pengalaman praktis di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan SPL ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami manajemen masjid secara konseptual, tetapi juga mampu melihat secara langsung penerapannya dalam kehidupan masyarakat. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran yang memperluas perspektif mahasiswa mengenai peran masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dakwah, pelayanan, dan pemberdayaan umat.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat komitmen Universitas Islam Terbaik untuk menghadirkan proses pendidikan yang mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan pengalaman lapangan. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan untuk memahami persoalan umat secara lebih komprehensif serta mampu berkontribusi dalam pengembangan kehidupan keagamaan dan sosial masyarakat. []
























