Maryland, Gontornews — Pusat prediksi lingkungan Amerika Serikat, The National Centers for Environmental Prediction (NCEP), Rabu (05/07/2023), menyatakan suhu pada tanggal 3 Juli 2023 sebagai yang terpanas di dunia. Pada tanggal tersebut, suhu global rata-rata mencapai 17,01 derajat Celcius atau melampaui rekor pada Agustus 2016 dengan 16,92 derajat Celcius saat gelombang panas melanda dunia.
Wilayah Amerika Serikat bagian selatan menjadi wilayah dengan peningkatan suhu tertinggi dalam beberapa pekan terakhir. Sementara di Cina, gelombang panas terus berlanjut dengan suhu di atas 35 derajat Celcius. Pun dengan wilayah Afrika Utara yang melaporkan kenaikan suhu mendekati 50 derajat Celcius.
Suhu di Antartika sendiri tercatat sangat tinggi bahkan saat mereka berada pada musim dingin. Bahkan, pusat penelitian milik Ukraina di Antartika, Vernadsky Research Base, mencatatkan suhu pada bulan Juli mencapai 8,7 derajat Celcius.
“Ini bukan tonggak sejarah yang harus kita rayakan,” kata Friederike Otto, Ilmuwan iklim dari Grantham Institute for Cllimate Chaange and the Environment di Imperial College London.
“Ini adalah hukuman mati bagi manusia dan ekosistem,” sambung Otto sebagaimana dilansir Reuters.
Para ilmuwan mengatakan, perubahan iklim dan kemunculan El Nino sebagai penyebab meningkatnya suhu rata-rata global.
“Sayangnya, fakta ini yang pertama dari serangkaian rekor baru yang terjadi pada tahun ini karena peningkatan emisi gas rumah kaca serta perisitiwa El Nino yang mendorong suhu ke ketinggian baru,” ucap Zeke Hausfather, seorang peneliti sekaligus ilmuwan di Barkeley Earth. [Mohamad Deny Irawan]






















