Demak, Gontornews – Sunan Kalijaga merupakan salah satu tokoh Wali Songo yang berperan penting dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Ia dikenal melalui pendekatan dakwah yang memanfaatkan seni dan budaya lokal. Melalui kesenian yang dekat dengan kehidupan masyarakat, ia menyampaikan nilai-nilai Islam secara bertahap dan mudah dipahami.
Dikenal dengan nama asli Raden Mas Said. Ia diperkirakan lahir tahun 1450 Masehi, dijuluki sebagai ulama, penyair, filsuf, dan penasihat agung kerajaan serta begitu dekat dengan masyarakat.
Perjalanan Sunan Kalijaga menjadi pendakwah tidak terlepas dari pertemuannya dengan Sunan Bonang. Dalam kisah yang berkembang di masyarakat Jawa, Raden Mas Said bertemu dengan Sunan Bonang ketika berniat mengambil tongkatnya yang dikira terbuat dari emas. Sunan Bonang kemudian memberikan nasihat yang membuat Raden Said menyadari kesalahannya dan ingin mengubah hidupnya.
Ia pun meminta kepada Sunan Bonang untuk menerimanya sebagai murid agar dapat belajar agama Islam. Sunan Bonang kemudian menyuruhnya menjaga tongkat di tepi sungai hingga ia kembali. Raden Said menjalankan perintah tersebut dengan sabar dan setia. Kisah ini menggambarkan perubahan hidup Raden Said, dari seseorang yang menempuh jalan keliru menjadi pribadi yang memilih belajar agama dan menyebarkan ajaran Islam.
Salah satu hal yang membuat Sunan Kalijaga dikenal luas yaitu pendekatan dakwahnya melalui seni pertunjukan. Menggunakan wayang kulit sebagai media penyampaian pesan keagamaan. Pada masa itu, wayang telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Jawa. Melalui media tersebut, pesan moral dan ajaran Islam dapat disampaikan dengan cara yang akrab bagi masyarakat.
Dikutip dari Buku Intisari SKI (Sejarah Kebudayaan Islam) karya Siti Wahidoh (68: 2020) kesenian wayang kulit pada awalnya berisi kisah-kisah cerita Hindu, oleh Sunan Kalijaga, kisah-kisah tersebut diubah menjadi kisah-kisah yang berisi tentang ajaran Islam.
Alasan mengapa wayang digunakan sebagai media penyebaran agama Islam pada saat itu ialah karena pada masa itu, masyarakat Indonesia sangat antusias dengan pertunjukan wayang. Hal tersebut kemudian sengaja dibuat oleh Sunan Kalijaga untuk memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat Jawa, yang saat itu masih memeluk agama Hindu dan Budha. Cara itu terbukti menarik masyarakat Jawa yang masih mengenal animisme dan dinamisme untuk mengenal Islam.
Mengutip buku Bahagia Bersama Gus Baha karya Khoirul Anam (31: 2022), diceritakan oleh Gus Baha, ketika Sunan Kalijaga menciptakan wayang untuk mendakwahkan Islam, Sunan Giri bereaksi keras dengan menyebut bahwa wayang haram hukumnya dalam Islam. Kala itu, wayang yang digunakan Sunan Kalijaga berbentuk menyerupai manusia. Masyarakat Jawa menyebut wayang yang demikian dengan wayang tenghul.
Pada saat itu Sunan Giri tidak menerima hal tersebut, baginya membuat wayang hukumnya haram. Kala itu, Sunan Kalijaga pertama kali menciptakan wayang dari kulit lembu. Sunan Giri menyampaikan kekhawatirannya bahwa wayang yang berbentuk menyerupai manusia tersebut akan meminta nyawa kelak nanti di akhirat. Dalam suasana perdebatan tersebut, Sunan Kudus melerai keadaan dengan memberikan sebuah solusi agar wayang dibuat dengan bentuk yang pipih atau gepeng seperti halnya wayang kulit.
Selain menggunakan wayang, Sunan Kalijaga juga dikenal melalui dakwah yang memanfaatkan tembang atau lagu tradisional Jawa. Salah satu tembang yang sering dikaitkan dengannya adalah Lir-ilir.
Mengutip penelitian Mulyono dalam jurnal Tadbir: Jurnal Manajemen Dakwah (2020), tembang Lir-ilir, tembang ini mengandung pesan keislaman yang disampaikan melalui bahasa simbolis. Pesannya mengajak masyarakat untuk memperbaiki diri, meningkatkan keimanan, dan menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam Lirik: “Lir-ilir, lir-ilir. Tandure wis sumilir. Tak ijo royo-royo. Bocah angon, bocah angon.”
Yang artinya : Bangunlah, bangunlah. Tanaman sudah mulai tumbuh dan bersemi. Tampak hijau dan subur. Anak penggembala, anak penggembala.
Pada lirik tersebut dimaknai sebagai ajakan kepada manusia untuk bangkit dari kelalaian, memperbaiki perilaku, dan menjalankan ajaran agama. Gambaran tanaman yang mulai tumbuh dapat diartikan sebagai tumbuhnya kesadaran dan keimanan. Sementara itu, sosok anak penggembala sering dimaknai sebagai gambaran manusia yang perlu menjaga dan mengarahkan kehidupannya.
Melalui tembang dan kesenian tradisional, Sunan Kalijaga menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa. Ia memanfaatkan budaya yang sudah dikenal masyarakat untuk menyampaikan pesan keagamaan dan nilai-nilai kebaikan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana dakwah yang membantu masyarakat memahami ajaran Islam.
Hingga kini, Sunan Kalijaga dikenang sebagai salah satu tokoh Wali Songo yang berperan dalam penyebaran Islam di Jawa. Kisah dakwahnya memperlihatkan pentingnya memahami kehidupan masyarakat dalam menyampaikan ajaran agama. Warisan dakwahnya juga menjadi bagian dari sejarah pertemuan Islam dan budaya Jawa yang masih dikenal hingga saat ini. [Mahessa]

























