London, Gontornews — Badan kesehatan dunia, WHO, bekerjasama dengan pihak berwenang di Kamboja untuk menangani dua kasus flu burung H5N1 pada manusia. Direktur Kesiapsiagaan dan Pencegahan Pandemi WHO, Sylvie Briand, mengatakan pihaknya sedang melakukan peninjauan risiko global terhadap perkembangan terkini virus flu burung H5N1.
WHO telah mengumumkan bahwa penularan virus flu burung pada manusia sangat rendah. Namun, temuan baru di Kamboja, Kamis (23/02/2023), membuat WHO siap siaga.
“Situasi global H5N1 mengkhawatirkan, mengingat luasnya penyebaran virus pada burung di seluruh dunia serta meningkatnya laporan kasus pada mamalia termasuk manusia,” kata Briand kepada Reuters.
“WHO mengambil risiko dari virus ini dengan serius dan mendesak semua negara untuk waspada tingkat tinggi,” sambungnya.
Sebelumnya, otoritas kesehatan Kamboja melaporkan kematian seorang gadis berusia 11 tahun karena H5N1 pada Kamis. Setelahnya, mereka menguji 12 kontak dekat dengan korban tewas dan, hasilnya, ayah korban menunjukkan gejala dan dinyatakan positif terinfeksi virus.
Briand menambahkan, belum ada kejalasan mengenai peluang penularan dari manusia ke manusia dalam kasus H5N1 di Kamboja. WHO juga masih mencari penyebab penularan dari lingkungan yang sama atau penularan akibat kontak dekat dengan unggas yang terinfeksi.
Virus flu burung H5N1 varian clade 2.3.4.4b muncul untuk pertama kalinya pada tahun 2020. Varian ini telah menyebar ke sejumlah wilayah di Afrika, Asia, Eropa, Amerika Utara dan Amerika Selatan. Virus ini juga menyebabkan lonjakan jumlah kematian yang belum pernah terjadi pada burung liar atau pun unggas peliharaan.
Selain menginfeksi dan membunuh unggas, varian ini juga menginfeksi sejumlah mamalia mulai dari rubah, beruang grizzly, anjing laut hingga singa laut. Beberapa pihak menduga bahwa mamalia tersebut tertular virus H5N1 setelah memangsa burung yang terinfeksi. [Mohamad Deny Irawan]


















