New York, Gontornews — Pemilik serta CEO aplikasi media sosial Facebook, Mark Zuckerberg, berencana untuk menggabungkan layanan pesan WhatsApp, Instagram, dan Facebook Messenger dalam satu platform. Rencana penggabungan ketiga aplikasi dalam satu platform ini dikutip oleh Reuters dari harian New York Times, Jumat (25/1).
Meski demikian, Zuckerberg memastikan bahwa penggabungan aplikasi layanan pesan ini akan memasukkan enkripsi end-to-end (antisadap) demi melindungi privasi data pengguna. Dari ketiga aplikasi layanan pesan di atas, hanya WhatsApp yang sudah menggunakan enkripsi antisadap.
Zuckerberg pun berencana untuk menambahkan enkripsi serupa untuk layanan facebook agar setiap pembicaraan terlindungi dan terbatas kepada para peserta percakapan terkait saja.
“Ada banyak diskusi dan debat ketika kami memulai proses panjang untuk mencari tahu semua detail tentang bagaimana ini akan bekerja,” ungkap salah seorang jurubicara facebook.
Secara teknis, pengguna facebook akan dapat mengirimkan pesan terenkripsi kepada seorang pengguna WhatsApp.
Menurut pakar hukum dari Benjamin N Cardozo School of Law, Sam Weinstein, langkah ini dilakukan oleh Zuckerberg dan facebook guna mempersulit regulator untuk memecah facebook dengan membatalkan akuisisi WhatsApp dan Instagram.
“Jika facebook khawatir tentang itu maka salah satu cara untuk mempertahankan diri tentu saja adalah dengan mengintegrasikan layanan-layanan itu,” kata Weinsten.
Namun, Weinsten mengatakan bahwa solusi tersebut sebagai solusi paling ekstrem yang ditujukan oleh regulator di Amerika Serikat. Weinsten pun mengatakan, bisa jadi, alasan integrasi ketiga aplikasi layanan pesan berbasis daring itu adalah untuk menghindari dari regulasi pengawas antimonopoli.
Sementara itu, mantan Kepala Keamanan facebook, Alex Stamos, mengatakan upaya integrasi ketiga aplikasi tersebut menjadi kabar baik bagi para pengguna layanan media sosial karena dapat memperluas jaringan enkripsi antisadap.
“Dengan hati-hati, saya optimis (penggabungan tiga aplikasi) itu adalah yang baik,” kata Alex Stamos.
“Ketakutan saya adalah mereka akan menghentikan enkripsi antisadap itu,” tambah salah seorang dosen di Universitas Stanford itu.
Lebih lanjut, Stamos pun berharap facebook mempertimbangkan masukan dari pakar terorisme, komite perlindungan anak, penasihat privasi serta bersikap transparan atas setiap keputusan yang mereka buat.
“Ini harus jadi proses terbuka karena anda tidak dapat memilikinya semua,” pungkas Stamos. [Mohamad Deny Irawan]





















