Jakarta, Gontornews — Tampaknya remeh, tapi dampaknya ternyata mengkhawatirkan. Adalah virus penyerang sistem pernapasan manusia yang terkenal dengan virus corona atau COVID-19 ini menggemparkan dunia.
COVID-19 ini dinyatakan sebagai pandemi atau suatu wabah penyakit global oleh World Health Organization (WHO) pada 12 Maret 2020 lalu. Bagaimana tidak mengkhawatikan, pandemi yang mirip flu ini telah menginfeksi lebih dari 100 negara di dunia. Satu persatu pasien virus itu pun berguguran, meninggal dunia.
Mengutip dari situs Worldometer, COVID 19 telah menginfeksi 106.191 orang per 8 Maret 2020 pukul 09.00 WIB. Sebanyak 3.600 pasien meninggal dan 60.190 orang dinyatakan sembuh. Jumlah pasien terbanyak ada di Tiongkok total 80.696 kasus. Nomor dua adalah Korea Selatan sebanyak 7.134 kasus. Di bawahnya adalah Italia dengan 5.883 kasus
Tony Rosyid, pengamat politik dan pemerhati bangsa dalam keterangan tertulisnya, Ahad (15/05/2020), menjelaskan day to day angka positif Covid-19 di Indonesia mengalami lonjakan drastis. Dari 2, lalu 19, naik jadi 34. Sehari kemudian (Jumat) menjadi 69. Hari berikutnya Sabtu jadi 96.
Mungkin hari demi hari ke depan, tak ada hari tanpa kenaikan angka terinfeksi virus corona. Satu persatu pasien Covid-19 meninggal. Tidak saja di Italia, Iran dan Korea Selatan, tapi juga di Arab Saudi dan Indonesia.
Jika pada Sabtu (14/05/2020) lalu, lima dari 96 yang positif Covid-19 meninggal berarti 5,2 persen. Maka Indonesia menempati ranking kedua tingkat kematian karena corona setelah Italia 7,1 persen. Disusul Iran, 4,5 persen, Cina 3,9 persen. Jika data 96 positif Covid-19 per 15/05/2020 maka itu benar adanya.
Tak ingin kasus positif terus bertambah dari pusat hingga daerah menerapkan kebijakan beraktivitas dan bekerja di rumah. “Mulai dari DKI yang inisiatif mengambil langkah cepat menutup semua tempat wisata, meniadakan CFD, dan meliburkan semua sekolah di DKI. Warga DKI dihimbau agar tidak keluar rumah kecuali untuk kepentingan yang sangat urgent,” kata Tony Rosyid.
Langkah Anies tersebut kemudian disusul oleh walikota Surakarta, Walikota Bekasi dan Walikota Depok. Sekolah diliburkan (sementara dengan sistem Online), pentas seni distop, tempat wisata dan GOR ditutup, CFD dihentikan, kunjungan kerja ditunda, dan segala event-event tak urgent dibatalkan. Walikota Bekasi dan Depok juga melakukan hal yang hampir sama.
Di luar kepala daerah tersebut, imbuh Tony Rosyid, Universitas Indonesia (UI) meliburkan perkuliahan tatap muka selama dua pekan. Langkah UI ini kemudian diikuti 14 perguruan tinggi lainnya, baik di Jawa maupun luar Jawa. Enam sekolah swasta di Jakarta telah lebih dulu minta ijin kepada Dinas Pendidikan DKI untuk meliburkan siswa-siswinya. Disusul oleh sekolah Muhammadiyah di seluruh Jogjakarta.
Menurut Rektor Institut Takzia Bogor Dr Murniati Mukhlisin, mewabahnya Covid-19 yang berimbas pada penerapan kebijakan beraktivitas dan bekerja di rumah juga berdampak pada sektor perekonomian dan bisnis. Karenanya, hampir semua sekolah, kampus, instansi dan perkantoran memberlakukan WFH (Work From Home). Paling tidak di area Jabodetabek.
Akibatnya itu, hampir semua supermarket penuh, memborong makanan, karena WFH. Obat anti Covid-19 dari sereh hingga serum bermunculan. “Harga saham turun, emas dan dolar naik. Harga-harga barang retail juga naik terutama: masker, sanitizer, pengukur suhu,” ungkap Murniati dalam keterangan tertulisnya kepada Majalah Gontor, Senin (16/03/2020).
Tidak main-main, harga masker melonjak drastis adalah benar adanya. Gara-gara masker yang sebelumnya dibandrol sekitar Rp30.000 per kardus menjadi Rp200.000- Rp300.000. Masker penutup mulut dan hidung jadi barang langka, pascamerebaknya virus tersebut juga benar adanya.
Muhammad Qaari Mufassir, pemilik toko ATK yang juga menjual masker di sekitar Kampus II UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mengaku kesulitan mendapatkan masker sekali pakai untuk dijualnya kembali. “Masker sekali pakai sulit dicarinya. Sekalinya ada juga mahal,” ungkapnya kepada Majalah Gontor.
Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua PP Muhammadiyah, Dr Anwar Abbas, wabah virus corona selain berdampak pada kesehatan juga berdampak pada perekonomian. Ada yang pengaruhnya supply menjadi turun, karena menurunnya impor dan atau supply atas barang dan jasa, sehingga harga menjadi naik.
Ada juga yang permintaannya menurun karena masyarakat takut bepergian seperti industri pariwisata misalnya, akibatnya pendapatan penyedia barang dan jasa menurun. “Ini tentu sangat merugikan perekonomian kita,” katanya dikutip Indonesiainside.id, Senin (16/3/2020).
Akibat virus corona tahun ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani seperti dikutip CNN Indonesia, memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tertekan. Proyeksinya laju ekonomi yang semula ditargetkan bisa mencapai 5,3 persen akan turun ke kisaran 4,7 persen sampai 5,0 persen.
Sementara Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksikan ekonomi nasional hanya tumbuh 5,1 persen pada tahun ini. Proyeksi ini turun dari semula 5,1 persen sampai 5,5 persen.
[Muhammad Khaerul Muttaqien]



















