Membuat seseorang untuk berani menjadi seorang entrepreneur itu tidak mudah. Salah satu buktinya, di berbagai negara, pemerintah harus memberikan berbagai macam insentif untuk melahirkan para entrepreneur.
Di Qatar, misalnya, tiga bulan lalu Perdana Menteri Qatar Mohammed Bin Abdulrahman Al Thani menjanjikan untuk menggelontorkan tambahan dana USD 2 miliar untuk start up yang berbasis di Qatar.
Lebih dari itu, Al Thani juga mengumumkan peluncuran ten years residency visa khusus bagi para investor, innovator, dan entrepreneur. Visa khusus ini menjanjikan kemudahan pengajuan visa dalam jangka panjang dan berbagai benefit lainnya. Hal ini untuk mendorong para entrepreneur tersebut untuk membuka kantor dan bisnisnya di Qatar, bukan sekadar menjalankannya secara online dari negara lain.
Negara dengan pendapatan perkapita tertinggi di dunia itu tidak sendiri. Inggris, meskipun tidak semasif Qatar, juga memiliki puluhan skema pembiayaan dan dukungan finansial bagi para entrepreneur serta memiliki jalur untuk innovator and founder visa. Jika ditelusuri, hampir semua negara di dunia memiliki pola yang serupa untuk mendorong lahirnya wirausahawan yang berani berdiri di atas kaki sendiri.
Nyali
Apa elemen terbesar yang menjadikan seseorang tidak berani untuk melangkah ke dunia kemandirian? Ketidakpastian itu menakutkan; dan kemungkinan untuk gagal merupakan sesuatu yang terkadang terlalu berat untuk ditanggung. Pola pikirnya, mengapa harus mencoba sesuatu yang baru jika berpotensi gagal?
Namun bagi alumni pesantren, mereka berpegang pada satu mahfuzhat yang singkat namun sangat fundamental; jarrib wa laahizh takun ‘aarifan, cobalah dan perhatikan, maka kamu akan mengetahui.
Mahfuzhat tersebut tidak menjanjikan keberhasilan, apalagi kekayaan. Yang dijanjikan pelajaran dan pengetahuan. Namun justru pengetahuan itulah kunci sebuah keberhasilan.
Dalam surat Al-Baqarah ayat 269, Allah berfirman: “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.”
Namun untuk sampai pada titik seseorang berani berdiri mandiri untuk meraih karunia Allah tidaklah mudah. Karena setan juga turut andil membuat nyali manusia ciut. Dalam ayat sebelumnya, surat Al-Baqarah ayat 268, Allah berfirman: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”
Tanpa kemampuan untuk mengalahkan rasa takut dan mengobarkan api nyali, maka kecil kemungkinan seorang yang mandiri, secara pikiran maupun secara ekonomi, akan lahir.
Kebebasan dalam kesederhanaan
Semua orang menginginkan kebebasan. Benarkah? Tidak juga. Banyak yang nyaman dalam keterpenjaraan. Jika semua orang memang secara inherent mau untuk bebas dan siap memperjuangkan kebebasan, tentu tidak perlu Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor mencantumkan kebebasan sebagai salah satu dari core teaching Gontor, Panca Jiwa.
Artinya, semua orang suka kebebasan, namun tidak banyak yang benar-benar bertekad untuk mendapatkannya dengan waktu, tenaga, pikiran, bahkan jiwanya. Termasuk dalam hal kebebasan finansial. Orang tentu ingin memiliki kebebasan finansial, namun berapa banyak yang siap untuk melompat ke ranah tak dikenal untuk meraih kebebasan itu.
Maka kunci dari kebebasan finansial ya harus siap untuk hidup sederhana. Jika kebebasan finansial dikorelasikan secara langsung dengan kemewahan, maka api semangat kemandirian akan padam bahkan sebelum menyala. Karena itulah, dengan berbagai pengalaman hidup sederhana di pesantren, alumni pesantren memiliki bahan bakar untuk bangkit mandiri.
Toleransi untuk ketidaknyamanan juga seringkali berbanding lurus dengan kesederhanaan. Semakin sederhana, semakin siap seseorang untuk berangkat ke teritori tak nyaman. Semakin mewah hidup seseorang, semakin lemah lunglailah dia melihat daerah tak bertuan. Jangankan melangkah masuk, melihat saja tak sanggup.
Itulah mungkin mengapa Ibnu Khaldun dalam Mukaddimah-nya menyitir bahwa sebuah peradaban akan hancur ketika sebuah generasi bergelimang dengan harta sehingga mereka menjadi lembek dan mudah ditundukkan. Bagi alumni pesantren, menjadi mandiri sejatinya bukan hanya masalah ekonomi, itu masalah meletakkan bata peradaban yang bebas dan tidak dijajah. []



















