Singapura, Gontornews — Pandemi Covid-19 meledak di Singapura. Untuk pertama kalinya rekor kasus harian melompat lebih dari 1.400 kasus sehingga total kasus mencapai 8.014.
CNA dan Straight Times melaporkan pada hari Senin, terdapat kenaikan 1.426 kasus sehingga totalnya mencapai 8.014 kasus. Sebagian besar infeksi baru terkait dengan asrama pekerja asing.
Dengan tambahan kasus baru, kini Singapura tercatat sebagai negara ASEAN tertinggi kasus Covid-19. Negara-kota ini sudah melampaui Indonesia (6.670) dalam jumlah kasus. Sementara dalam jumlah kematian ada di peringkat pertama dengan 590 kematian.
Meski kasusnya tinggi, Singapura terbilang sukses menekan tingkat kematian. Sejak kasus ini merebak hanya ada 11 kematian akibat Covid-19.
Pada awalnya, Singapura termasuk negara yang berhasil mengendalikan penularan Covid-19 bersama Vietnam, Taiwan dan Hongkong.
Kini, Singapura terhentak menghadapi gelombang kedua Covid-19 yang bergerak cepat. Lonjakan kasus, menurut otoritas kesehatan, seiring dengan masif dan meluasnya pengujian terhadap pekerja asing yang tinggal di kompleks asrama yang ramai, banyak di antaranya adalah pekerja konstruksi dari Asia Selatan.
Menurut CNA dan Worldometer, Singapura telah menguji sekitar 95.000 sampel atau 1,6% dari jumlah penduduk. Sementara Indonesia baru menguji 43,500 sampel atau sekitar 0.0142% dari jumlah penduduknya.
Sekitar 200.000 pekerja tinggal di asrama dan biasanya bekerja keras selama berjam-jam untuk menghasilkan $ 400 hingga $ 500 sebulan membangun gedung pencakar langit dan pusat perbelanjaan berkilauan negara-kota Singapura.
Meledaknya virus corona Covid-19 di Singapura menandakan potensi munculnya gelombang kedua penyakit itu di Negeri Singa. Jumlah kasus positif corona Negeri Singa dalam empat hari mencapai 6.588 atau terbanyak di Asia Tenggara.
Otoritas setempat sempat menjelaskan bahwa meroketnya kasus corona dalam beberapa hari terkait munculnya penularan di asrama pekerja asing. Total 18 asrama yang diisolasi Pemerintah Singapura guna mencegah penyebaran Covid-19. “Peningkatan utama masih berlanjut bagi pemegang izin kerja yang tinggal di asrama. Sejalan dengan upaya kami untuk menguji dan mengisolasi pekerja yang terinfeksi,” demikian keterangan Kementerian Kesehatan Singapura dikutip dari Channel News Asia, Senin (20/4).
Mayoritas asrama asing dihuni oleh pekerja migran asal Bangladesh, India, serta Tiongkok. Berbeda dengan tempat tinggal warga Singapura pada umumnya, asrama ini mayoritas dapat dikatakan tak layak huni dan menunjang penyebaran corona. Lembaga nirlaba juga menyoroti kondisi tempat tinggal buruh asing yang sangat sempit dan tak sehat. Direktur Eksekutif Organisasi Kemanusiaan untuk Migrasi Ekonomi (HOME) Catherine James mengatakan kondisi ini ditunjang aturan luas hunian minimal yang ditetapkan Pemerintah Singapura adalah 4,5 meter persegi per orang.
Menyusul kritik terhadap kondisi kehidupan yang buruk di asrama, pemerintah memindahkan ribuan pekerja ke lokasi lain – termasuk apartemen dan akomodasi terapung yang biasanya digunakan dalam industri lepas pantai – untuk mencoba mengurangi kemungkinan infeksi. Beberapa asrama dengan wabah serius telah dikarantina, dengan pekerja tidak diizinkan meninggalkan tempat selama dua minggu. Pemerintah menyediakan makanan, dan layanan kebersihan telah ditingkatkan.
Perdana Menteri Lee Hsien Loong pada akhir pekan memperingatkan bahwa jumlah pekerja asing yang ditemukan tertular COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh virus, kemungkinan akan meningkat lebih lanjut karena lebih banyak yang diuji. “Untungnya, sebagian besar kasus ringan karena pekerja masih muda,” tulis Lee di Facebook.
Sementara pemerintah sedang berupaya untuk menghentikan penularan di asrama “itu akan memakan waktu untuk menunjukkan hasil, jadi kita harus berharap untuk melihat lebih banyak kasus asrama untuk sementara waktu lebih lama”, katanya. Negara-kota bulan ini memperkenalkan pembatasan keras yang bertujuan menghentikan penyebaran virus, termasuk menutup sekolah dan menyarankan orang untuk tinggal di rumah. Sejak itu, jumlah infeksi baru yang dilaporkan di antara warga Singapura telah melambat – hanya 16 dari kasus yang dilaporkan pada Senin adalah warga negara atau orang yang memiliki status tempat tinggal permanen. [DJ]






















