London, Gontornews — Penasihat Kesehatan Pemerintah Inggris memprediksi panjangnya upaya penyebaran COVID-19, Senin (27/4). Tidak hanya itu, mereka juga menyebut bahwa masyarakat tidak boleh hanya fokus pada kapan puncak COVID-19 akan terjadi.
“Ini sangat panjang untuk dijalani. Saya pikir kami hanya memikirkan kapan puncak petama akan terjadi. Yang perlu benar-benar kita harus lalui adalah bahwa kita masih memiliki jalan sebelum akhirnya jatuh. Tetapi, jalan panjang tersebut masih harus terus dilampaui,” kata Kepala Petugas Medis Inggris, Chris Whitty, sebagaimana dilansir Reuters.
“Menurut saya, ini adalah kesalahan besar dengan hanya mempertimbangkan fase pertama saja. Kita perlu melihat epidemi ini secara keseluruhan,” imbuhnya.
Sementara itu, Sky News, melaporkan 360 kasus kematian akibat COVID-19 dalam 24 jam terakhir. Meski tinggi, konfirmasi angka kematian tersebut adalah yang terendah dalam empat pekan terakhir. Angka kematian ini juga merupakan prosentase kenaikan terkecil dari prosentase sehari sebelumnya yang hanya mencatatkan 1,7 Persen.
Secara total, Kementerian Kesehatan Inggris mengonfirmasi hingga Senin (27/4), 21.092 orang meninggal dunia akibat COVID-19.
Kementerian Kesehatan Inggris pun menyiapkan dana 60.000 poundsterling bagi atau sekitar 1,1 miliar rupiah kepada keluarga petugas medis yang meninggal dunia.
Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, pun mengatakan tren penurunan ini merupakan momentum untuk membalikkan keadaan dalam perang melawan virus itu. Namun, Boris, yang baru pulih dari COVID-19, mengatakan bukan saatnya bagi semua pihak untuk bersantai dalam penguncian wilayah nasional. [Mohamad Deny Irawan]




















