Amman, Gontornews — Politisi Palestina kecam normalisasi hubungan diplomatik penuh antara Uni Emirat Arab (UEA) dengan Israel.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas menyerukan pertemuan mendesak Liga Arab setelah pengumuman bersama oleh UEA, Israel, dan AS, Kamis (13/8).
“Kepemimpinan Palestina menolak dan mengecam pengumuman trilateral UEA-Israel-AS yang mengejutkan,” kata Nabil Abu Rudeineh, penasihat senior Abbas. Ia membaca sebuah pernyataan di luar markas besar Presiden Palestina di Ramallah, Tepi Barat yang diduduki.
Abu Rudeineh menggambarkan perjanjian itu sebagai “pengkhianatan terhadap Yerusalem, Al-Aqsha, dan perjuangan Palestina.”
Sementara itu warga Israel menyambut gembira kesepakatan itu. Balai Kota Tel Aviv diterangi dengan bendera UEA dan Israel ketika negara-negara tersebut mengumumkan bahwa mereka akan menjalin hubungan diplomatik penuh pada hari Kamis.
Jika diterapkan secara resmi, kesepakatan itu akan membuka jalan bagi UEA menjadi negara Arab ketiga yang memiliki hubungan resmi dengan Israel. Organisasi Pembebasan Palestina dan Israel menandatangani perjanjian Oslo pada 1993 dan 1995. Yordania menandatangani perjanjian damai dengan Israel pada 1994, sementara Mesir dan Israel menandatangani Camp David Accords pada 1978.
Sedangkan warga Palestina kuatir, perjanjian UEA-Israel dapat melemahkan Prakarsa Perdamaian Arab, yang ditengahi oleh Putra Mahkota (sekarang Raja) Abdullah pada tahun 2002, yang menyerukan penarikan penuh Israel dari tanah Arab yang diduduki sebagai imbalan normalisasi penuh dengan Israel.
Jamal Dajani, mantan jurubicara perdana menteri Palestina, mengatakan warga Palestina merasa dikhianati oleh UEA, yang langkahnya pada saat kritis ini merusak perjuangan mereka untuk kemerdekaan.
“Apa yang disebut rencana aneksasi Israel ilegal dan bukan permulaan. Netanyahu mengetahui ini, begitu pula Trump,” kata Dajani kepada Arab News.
Sedangkan Mustafa Barghouti, ketua Al-Mubadara (Inisiatif), sebuah partai politik Palestina yang independen, mengeluarkan pernyataan yang menyebut tindakan UEA sebagai “tusukan di belakang Palestina.”
Dia mengatakan kesepakatan itu mendukung keputusan Israel untuk menangguhkan daripada membatalkan rencana aneksasi sebagian besar Tepi Barat. []


















