Jakarta, Gontornews — Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan taklimat tentang penetapan Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law), Kamis (8/10). Dalam taklimat tersebut, MUI menyesalkan sikap pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat yang tidak merespons permintan MUI dan organisasi masyarakat Islam.
βMUI sangat menyesalkan dan prihatin kepada Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia yang tidak merespon dan mendengarkan permintaan Pengurus Besar Nahdhatul Ulama, Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dewan Pimpinan MUI serta Pimpinan ormas-ormas Islam menjadi UU Cipta Kerja,β ungkap pernyataan MUI.
MUI secara tegas menolak UU Cipta Kerja yang lebih banyak menguntungkan pengusaha, cukong dan investor asing. Bagi MUI, UU Cipta Kerja bertentangan dengan Pasal 33 ayat 3 UUD Tahun 1945.
βMUI menolak UU Cipta Kerja yang lebih banyak menguntungkan para Pengusaha, Cukong, Investor Asing serta bertolak belakang dengan Pasal 33 ayat 3 UUD Tahun 1945,β ungkap pernyataan MUI.
Tidak hanya itu, MUI juga meminta Pemerintah dan DPR untuk lebih fokus dalam menangani wabah Covid-19 serta tidak membuat kebijakan kontroversial yang dapat memicu kegaduhan secara nasional.
βMUI mengharapkan kepada segenap elemen bangsa untuk senantiasa memperkokoh persatuan dan kesatuan serta merenda jalinan kehidupan harmoni, sehingga kita bersama-sama dapat mengawal dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia hingga selama-lamanya.
Berikut isi Taklimat MUI bernomor: Kep-1730/DP-MUI/X/2020 yang ditandatangani oleh Wakil Ketua MUI, KH Muhyiddin Junaidi dan Dr H Anwar Abbas itu:


Taklimat MUI tentang Penetapan UU Cipta Kerja (Omnibus Law)





















