Dakar, Gontornews — Presiden terpilih Gambia, Adama Barrow, mengatakan akan dilantik di kedutaan negara itu di negara tetangga Senegal. Sementara itu kekuatan regional berkumpul di perbatasan Gambia untuk memaksa Presiden Yahya Jammeh yang kalah dalam Pilpres Desember lalu menerima kekalahannya.
Dalam pesan yang diposting di akun media sosialnya, Barrow mengatakan pelantikan akan berlangsung sesuai jadwal pada hari Kamis (19/1) di ibukota Senegal, Dakar.
Aljazeera melaporkan dari Dakar, perwakilan dari kepala negara-kepala negara Afrika Barat diharapkan menghadiri upacara pelantikan itu, yang menurut rencana berlangsung pada pukul 16.00 GMT.
“Sebuah momen yang sangat penting bagi sejarah Gambia,” tulis Aljazeera.
Kedutaan Gambia di Dakar pada Kamis sore dijaga ketat. Staf kedutaan tampak mengganti bendera Gambia yang memudar dengan yang baru.
Namun, belum jelas bagaimana Barrow akan melakukan perjalanan ke Gambia setelah pelantikan nanti.
Sebelumnya pada hari Kamis, Wakil Presiden Gambia sejak tahun 1997, Isatou Njie Saidy, telah mengundurkan diri dan meninggalkan kubu Jammeh.
“Pengunduran diri Saidy bersamaan dengan serangkaian pembelotan di kubu Jammeh,” tulis Aljazeera.
“Delapan anggota kabinet telah mengundurkan diri, namun Jammeh masih belum mau mengakui kekalahannya.”
Jammeh awalnya mengakui kemenangan Barrow dengan selisih satu suara, tapi kemudian menolak hasil Pilpres yang ia nilai ada kecurangan.
Awal pekan ini, ia mengumumkan keadaan darurat nasional, dan parlemen Gambia, Rabu (18/1), menyetujui sebuah resolusi untuk memperpanjang masa jabatannya selama 90 hari.
Jammeh, yang telah memerintah Gambia sejak 1994 melalui kudeta, menolak untuk mundur, meskipun ada kecaman internasional dan ancaman intervensi militer oleh negara-negara Afrika Barat. [Rusdiono Mukri]




















