Brussels, Gontornews — Komisi Uni Eropa merekomendasikan penggunaan tes cepat antigen sebagai pengujian awal pendektesi Covid-19. Meski tidak seakurat tes PCR (Polymerse Chain Reaction), hasil tes pengujian dapat keluar dalam hitungan menit atau tidak dalam hitungan hari seperti halnya tes PCR.
“Tes antigen cepat harus digunakan dalam lima hari setelah timbulnya gejala atau dalam tujuh hari setelah terpapar kasus Covid-19 yang dikonfirmasi,” ungkap komisi eksekutif Uni Eropa dalam rilis yang dilansir Reuters.
Sejumlah pakar menganggap tes cepat antigen memiliki sejumlah kekurangan seperti ketidakakuratan hasil terutama dalam menguji pasien tanpa gejala.
Uni Eropa mendesak negara-negara Eropa untuk mempercepat pengujian dengan berbagai strategi yang diberlakukan oleh masing-masing negara. Uni Eropa memandang bahwa beberapa negara enggan mengadopsi standar umum yang diberlakukan
Bagi Uni Eropa, keakuratan tes cepat dalam menemukan kasus positif dengan benar merupakan sebuah indikator yang dikenal sebagai sensitivitas. Sensitivitas ini akan meningkat kala digunakan kepada orang yang hingga lima hari mengalami gejala dalam kasus Covid-19 parah.
Meski demikian, Uni Eropa menyadari bahwa tidak banyak data tersedia yang terbukti tentang kinerja tes antigen dalam kasus tanpa gejala. Produsen antigen pun tidak memasukan pasien tanpa gejala sebagai populasi target dalam instruksi pengujian cepat mereka.
Komisi mendesak pemerintah Uni Eropa untuk menggunakan tes dengan sensitivitas 80 persen atau spesifisitas 97 persen atau mampu mendeteksi orang yang tidak terinfeksi dengan benar. Karenanya, komisi merekomendasikan penggunaan tes antigen kepada individu tanpa gejala pada situasi dimana lebih dari 10 persen pengujian diharapkan positif. [Mohamad Deny Irawan]

























