Berlin, Gontornews — Ribuan orang menggelar demonstrasi menolak kebijakan pembatasan untuk menanggulangi Covid-19 di Berlin. Kanselir Jerman, Angela Merkel, mengeluarkan kebijakan yang memungkinkan pemerintah untuk memberlakukan pembatasan guna mengekang penyebaran virus corona gelombang kedua.
Majelis rendah dan atas parlemen Jerman, sebagaimana dilansir Reuters, berencana untuk mengesahkan undang-undang pada Rabu (18/11) malam waktu setempat. Aturan ini memungkinkan pemerintah untuk memberlakukan pembatasan pada kontak sosial, aturan pemakaian masker, larangan minuman beralkohol, menutup toko hingga menghentikan acara olahraga.
Meski aturan ini mendapatkan persetujuan sebagian besar warga Jerman, sejumlah kritikus mengatakan aturan tersebut memberikan kekuasaan terlalu banyak bagi pemerintah. Mereka menyebut kewenangan yang berlebihan berisiko membahayakan hak-hak sipil warga negara tanpa persetujuan parlemen.
Para pengunjuk rasa di Berlin tidak mengenakan masker atau menjaga jarak sosial. Petugas keamanan berhelm anti huru hara berbaris untuk mencegah para demonstran terlalu dekat dengan gedung parlemen.
Pihak keamanan sangat ingin menghindari terulangnya insiden pada Agustus lalu, saat demonstrasi anti pembatasan akibat virus corona. Saat itu, demonstran menyerbu tangga gedung parlemen Reichtag. Beberapa demonstran bahkan sempat mengibarkan bendera sayap kanan, Reichsflagge.
Sejauh ini, Jerman mendapatkan pujian karena mampu menjaga tingkat infeksi dan kematian akibat Covid-19 pada saat negara-negara tetangga mengalami krisis Covid-19 gelombang kedua. Jumlah kasus Covid-19 di Jerman bertambah 17.561 kasus sehingga menjadikan 833.307 kasus terbaru. Robert Koch Institute menunjukkan, pada Rabu (18/11), korban tewas akibat Covid-19 mencapai 13.119 kasus. [Mohamad Deny Irawan]























