Tahun 1926 seharusnya menjadi tahun keramat bagi bangsa indonesia. Untuk menemani kesakralan tahun 1945, tahun 1928 dan tahun 1908. Dua tahun sebelum sumpah pemuda dan sembilan belas tahun sebelum proklamasi. Kalau dihitung dari kebangkitan nasional berarti delapan belas tahun.
Indonesia di tahun 1926 masih belum terlahir. Para pahlawan bangsa sedang berjuang melawan penindasan Belanda. Para ulama berusaha menjaga api perjuangan melalui medan pendidikan. Para calon pemimpin bangsa digembleng dan dididik di kobong-kobong sederhana di sebuah kawah candradimuka yang disebut pesantren. Mereka diajarkan menjadi manusia merdeka, berbeda dengan para pelajar sekolah Belanda yang dipersiapkan untuk menjadi pegawai.
Di tahun yang penuh perjuangan itu lahir dua lembaga; Nahdhatul Ulama sebagai lembaga kemasyarakatan yang menaungi jutaaan umat Islam Indonesia dan Pondok Modern Darussalam Gontor, lembaga pendidikan kader yang bercita-cita mendidik para pahlawan tanpa tanda jasa. Keduanya lahir pada tahun yang sama. Keduanya lahir dari lingkungan pesantren. Tetapi menariknya, keduanya berangkat dari kegelisahan yang tidak sepenuhnya sama.
NU lahir antara lain dari kegelisahan para ulama tradisional terhadap perubahan yang sedang terjadi di Hijaz. Setelah perubahan kekuasaan di kawasan itu, muncul kekhawatiran mengenai kebebasan bermadzhab dan keberlangsungan sejumlah tradisi serta situs penting dalam sejarah Islam. KH Abdul Wahab Chasbullah dan para kiai pesantren kemudian mengambil langkah. Mereka tidak cukup hanya mengeluh di beranda pesantren. Mereka membentuk Komite Hijaz untuk menyampaikan aspirasi ulama Nusantara kepada penguasa baru di Tanah Suci. Dari rangkaian ikhtiar itu kemudian lahirlah Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926, dengan KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar.
Sebuah organisasi yang sekarang menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia justru bermula dari sebuah kegelisahan. Tetapi kegelisahan yang dikelola dengan baik ternyata bisa menjadi sejarah.
Pada tahun yang sama, cerita lain sedang berlangsung. Seorang pemuda dari desa Gontor wilayah Ponorogo, datang menghadiri Kongres Umat Islam Indonesia di Surabaya sebagai utusan umat Islam daerah Madiun. Namanya Ahmad Sahal. Usianya baru sekitar 25 tahun. Di dalam kongres itu dibicarakan rencana pengiriman wakil umat Islam Indonesia ke Muktamar Islam Sedunia di Mekkah.
Ada satu persoalan yang terlihat sederhana, tetapi rupanya membekas cukup dalam di hati pemuda Ahmad Sahal. Indonesia membutuhkan utusan yang mampu berkomunikasi dengan dunia internasional. Idealnya seseorang yang menguasai bahasa Arab sekaligus bahasa Inggris. Ternyata tidak mudah menemukannya. Akhirnya dipilih dua tokoh. H.O.S. Tjokroaminoto yang mahir berbahasa Inggris dan KH Mas Mansur yang menguasai bahasa Arab.
Bagi sebagian orang, mungkin persoalan itu selesai ketika dua nama telah diputuskan. Bagi Ahmad Sahal, rupanya belum. Ia justru membawa pulang sebuah pertanyaan. Mengapa tidak ada lembaga pendidikan Islam yang mampu melahirkan seorang ulama yang memahami agama dengan baik, tetapi sekaligus mampu berbicara dengan dunia? Mengapa bahasa Arab dan bahasa Inggris harus berada pada dua kepala yang berbeda?
Pertanyaan sederhana itu kemudian ikut menentukan perjalanan hidupnya. Sepulang dari kongres, Ahmad Sahal membuka kembali Pondok Gontor dengan program pendidikan Tarbiyatul Athfal. Kelak bersama dua adiknya, KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi, ia mengembangkan Gontor menjadi sebuah lembaga pendidikan dengan cita-cita melahirkan ulama yang intelek, bukan sekadar intelek yang mengetahui agama.
Mungkin di sinilah sejarah menjadi menarik. Pada tahun yang sama, dua kegelisahan melahirkan dua jalan pengabdian. Para kiai yang kemudian mendirikan NU melihat tantangan terhadap tradisi keagamaan dan kebebasan bermadzhab. Mereka meresponsnya dengan membangun organisasi. Ahmad Sahal muda melihat keterbatasan kemampuan umat Islam berkomunikasi dengan dunia. Ia meresponsnya melalui pendidikan.
Yang satu membangun jam’iyah. Yang lain membangun pesantren modern. Yang satu menjaga sesuatu yang sangat berharga dari masa lalu. Yang lain menyiapkan sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk masa depan. Kalau boleh disederhanakan, barangkali NU ikut menjaga akar, sementara Gontor ikut menyiapkan sayap.
Tentu sejarah jauh lebih kompleks daripada satu kalimat itu. NU juga membangun pendidikan dan melahirkan banyak pemikir modern. Gontor juga menjaga tradisi, adab, dan nilai-nilai keislaman. Tetapi keduanya menunjukkan satu watak yang sama. Tidak memusuhi zaman, tetapi berusaha menjawab zaman. Barangkali itulah sebabnya keduanya bisa bertahan melewati berbagai perubahan.
Indonesia pernah dijajah Belanda, diduduki Jepang, mengalami revolusi kemerdekaan, pergolakan politik, pergantian rezim, krisis ekonomi, reformasi, hingga memasuki zaman digital. NU tetap berjalan. Gontor tetap mendidik. Dan sejarah keduanya bahkan beberapa kali bertemu di tempat yang sangat menarik. KH Idham Chalid, misalnya. Pemuda dari Amuntai, Kalimantan Selatan, itu belajar di Gontor sejak 1938. Ia kemudian menjadi salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama dan memimpin PBNU selama hampir tiga dekade, dari 1956 hingga 1984.
Beberapa puluh tahun kemudian muncul KH Hasyim Muzadi. Ia juga pernah belajar di Gontor. Perjalanan panjangnya dalam NU kemudian membawanya menjadi Ketua Umum PBNU setelah Muktamar NU di Lirboyo pada 1999 dan memimpin hingga 2010. Dua Ketua Umum PBNU pernah ditempa di Gontor. Fakta kecil ini terasa indah. Karena sejarah terkadang melukiskan satu garis pemersatu.
Seorang santri bisa belajar di Gontor, tumbuh di lingkungan NU, bergerak dalam kehidupan kebangsaan, kemudian mengabdi kepada Indonesia. Identitas tidak selalu harus dipertandingkan. Kadang-kadang justru bisa saling memperkaya.
Gontor dan NU tentu mempunyai karakter, tradisi, sistem, dan perjalanan masing-masing. Tidak perlu diseragamkan. Justru keberagaman itulah yang membuat khazanah Islam Indonesia menjadi kaya. Tetapi ada satu pelajaran yang rasanya layak kita bawa pulang dari tahun 1926. Lembaga besar biasanya lahir bukan karena keadaan sedang baik-baik saja. Ia justru lahir ketika seseorang melihat ada sesuatu yang belum beres.
KH Wahab Chasbullah melihat persoalan di Hijaz. Ia bergerak. Ahmad Sahal muda melihat umat Islam kesulitan mencari seorang tokoh yang sekaligus menguasai bahasa Arab dan Inggris. Ia pulang dan mendidik. Mereka tidak menghabiskan terlalu banyak waktu menyalahkan keadaan. Mereka membuat jawaban.
Mungkin karena itulah NU berdiri selama satu abad dan Gontor mendidik dalam waktu yang sama. Untuk kita hari ini ada satu pertanyaan sederhana: Kegelisahan apa yang dirasakan umat yang sedang menunggu jawaban kita? []






















