pesanan-baju-kaos
30 °c
Pecenongan
Mon
Tue
Sunday, 25 October, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Values Kolom

1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Oleh Dr Saiful Falah, Pemerhati Pendidikan

Fathur Roji by Fathur Roji
2 months ago
in Kolom
0
1926: Ketika NU dan Gontor Menjawab Zaman

Tahun 1926 seharusnya menjadi tahun keramat bagi bangsa indonesia. Untuk menemani kesakralan tahun 1945, tahun 1928 dan tahun 1908. Dua tahun sebelum sumpah pemuda dan sembilan belas tahun sebelum proklamasi. Kalau dihitung dari kebangkitan nasional berarti delapan belas tahun.

Indonesia di tahun 1926 masih belum terlahir. Para pahlawan bangsa sedang berjuang melawan penindasan Belanda. Para ulama berusaha menjaga api perjuangan melalui medan pendidikan. Para calon pemimpin bangsa digembleng dan dididik di kobong-kobong sederhana di sebuah kawah candradimuka yang disebut pesantren. Mereka diajarkan menjadi manusia merdeka, berbeda dengan para pelajar sekolah Belanda yang dipersiapkan untuk menjadi pegawai.

Di tahun yang penuh perjuangan itu lahir dua lembaga; Nahdhatul Ulama sebagai lembaga kemasyarakatan yang menaungi jutaaan umat Islam Indonesia dan Pondok Modern Darussalam Gontor, lembaga pendidikan kader yang bercita-cita mendidik para pahlawan tanpa tanda jasa. Keduanya lahir pada tahun yang sama. Keduanya lahir dari lingkungan pesantren. Tetapi menariknya, keduanya berangkat dari kegelisahan yang tidak sepenuhnya sama.

NU lahir antara lain dari kegelisahan para ulama tradisional terhadap perubahan yang sedang terjadi di Hijaz. Setelah perubahan kekuasaan di kawasan itu, muncul kekhawatiran mengenai kebebasan bermadzhab dan keberlangsungan sejumlah tradisi serta situs penting dalam sejarah Islam. KH Abdul Wahab Chasbullah dan para kiai pesantren kemudian mengambil langkah. Mereka tidak cukup hanya mengeluh di beranda pesantren. Mereka membentuk Komite Hijaz untuk menyampaikan aspirasi ulama Nusantara kepada penguasa baru di Tanah Suci. Dari rangkaian ikhtiar itu kemudian lahirlah Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926, dengan KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar.

BACA JUGA

Malaikat Pencatat Amal sebagai Sumber Nilai Kejujuran dan Tanggung Jawab dalam Pembelajaran Akidah Akhlak

Strategi Guru Menumbuhkan Kualitas Iman Siswa

Menjadi Alumni Gontor Menjadi Santri Sepanjang Hayat

Internalisasi Nilai Asmaul Husna dalam Menumbuhkan Sikap Empati dan Kepedulian Sosial Siswa

Strategi Menanamkan Akidah Islam Melalui Pembiasaan Ibadah pada Anak Tingkat SD/MI

Sebuah organisasi yang sekarang menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia justru bermula dari sebuah kegelisahan. Tetapi kegelisahan yang dikelola dengan baik ternyata bisa menjadi sejarah.
Pada tahun yang sama, cerita lain sedang berlangsung. Seorang pemuda dari desa Gontor wilayah Ponorogo, datang menghadiri Kongres Umat Islam Indonesia di Surabaya sebagai utusan umat Islam daerah Madiun. Namanya Ahmad Sahal. Usianya baru sekitar 25 tahun. Di dalam kongres itu dibicarakan rencana pengiriman wakil umat Islam Indonesia ke Muktamar Islam Sedunia di Mekkah.

Ada satu persoalan yang terlihat sederhana, tetapi rupanya membekas cukup dalam di hati pemuda Ahmad Sahal. Indonesia membutuhkan utusan yang mampu berkomunikasi dengan dunia internasional. Idealnya seseorang yang menguasai bahasa Arab sekaligus bahasa Inggris. Ternyata tidak mudah menemukannya. Akhirnya dipilih dua tokoh. H.O.S. Tjokroaminoto yang mahir berbahasa Inggris dan KH Mas Mansur yang menguasai bahasa Arab.



Bagi sebagian orang, mungkin persoalan itu selesai ketika dua nama telah diputuskan. Bagi Ahmad Sahal, rupanya belum. Ia justru membawa pulang sebuah pertanyaan. Mengapa tidak ada lembaga pendidikan Islam yang mampu melahirkan seorang ulama yang memahami agama dengan baik, tetapi sekaligus mampu berbicara dengan dunia? Mengapa bahasa Arab dan bahasa Inggris harus berada pada dua kepala yang berbeda?

Pertanyaan sederhana itu kemudian ikut menentukan perjalanan hidupnya. Sepulang dari kongres, Ahmad Sahal membuka kembali Pondok Gontor dengan program pendidikan Tarbiyatul Athfal. Kelak bersama dua adiknya, KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi, ia mengembangkan Gontor menjadi sebuah lembaga pendidikan dengan cita-cita melahirkan ulama yang intelek, bukan sekadar intelek yang mengetahui agama.

Mungkin di sinilah sejarah menjadi menarik. Pada tahun yang sama, dua kegelisahan melahirkan dua jalan pengabdian. Para kiai yang kemudian mendirikan NU melihat tantangan terhadap tradisi keagamaan dan kebebasan bermadzhab. Mereka meresponsnya dengan membangun organisasi. Ahmad Sahal muda melihat keterbatasan kemampuan umat Islam berkomunikasi dengan dunia. Ia meresponsnya melalui pendidikan.

Yang satu membangun jam’iyah. Yang lain membangun pesantren modern. Yang satu menjaga sesuatu yang sangat berharga dari masa lalu. Yang lain menyiapkan sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk masa depan. Kalau boleh disederhanakan, barangkali NU ikut menjaga akar, sementara Gontor ikut menyiapkan sayap.

Tentu sejarah jauh lebih kompleks daripada satu kalimat itu. NU juga membangun pendidikan dan melahirkan banyak pemikir modern. Gontor juga menjaga tradisi, adab, dan nilai-nilai keislaman. Tetapi keduanya menunjukkan satu watak yang sama. Tidak memusuhi zaman, tetapi berusaha menjawab zaman. Barangkali itulah sebabnya keduanya bisa bertahan melewati berbagai perubahan.

Indonesia pernah dijajah Belanda, diduduki Jepang, mengalami revolusi kemerdekaan, pergolakan politik, pergantian rezim, krisis ekonomi, reformasi, hingga memasuki zaman digital. NU tetap berjalan. Gontor tetap mendidik. Dan sejarah keduanya bahkan beberapa kali bertemu di tempat yang sangat menarik. KH Idham Chalid, misalnya. Pemuda dari Amuntai, Kalimantan Selatan, itu belajar di Gontor sejak 1938. Ia kemudian menjadi salah satu tokoh paling penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama dan memimpin PBNU selama hampir tiga dekade, dari 1956 hingga 1984.

Beberapa puluh tahun kemudian muncul KH Hasyim Muzadi. Ia juga pernah belajar di Gontor. Perjalanan panjangnya dalam NU kemudian membawanya menjadi Ketua Umum PBNU setelah Muktamar NU di Lirboyo pada 1999 dan memimpin hingga 2010. Dua Ketua Umum PBNU pernah ditempa di Gontor. Fakta kecil ini terasa indah. Karena sejarah terkadang melukiskan satu garis pemersatu.

Seorang santri bisa belajar di Gontor, tumbuh di lingkungan NU, bergerak dalam kehidupan kebangsaan, kemudian mengabdi kepada Indonesia. Identitas tidak selalu harus dipertandingkan. Kadang-kadang justru bisa saling memperkaya.

Gontor dan NU tentu mempunyai karakter, tradisi, sistem, dan perjalanan masing-masing. Tidak perlu diseragamkan. Justru keberagaman itulah yang membuat khazanah Islam Indonesia menjadi kaya. Tetapi ada satu pelajaran yang rasanya layak kita bawa pulang dari tahun 1926. Lembaga besar biasanya lahir bukan karena keadaan sedang baik-baik saja. Ia justru lahir ketika seseorang melihat ada sesuatu yang belum beres.

KH Wahab Chasbullah melihat persoalan di Hijaz. Ia bergerak. Ahmad Sahal muda melihat umat Islam kesulitan mencari seorang tokoh yang sekaligus menguasai bahasa Arab dan Inggris. Ia pulang dan mendidik. Mereka tidak menghabiskan terlalu banyak waktu menyalahkan keadaan. Mereka membuat jawaban.

Mungkin karena itulah NU berdiri selama satu abad dan Gontor mendidik dalam waktu yang sama. Untuk kita hari ini ada satu pertanyaan sederhana: Kegelisahan apa yang dirasakan umat yang sedang menunggu jawaban kita? []

Tags: 1926GontorNU
Share23Tweet14Send
Previous Post

JK Tegaskan Pentingnya Reorientasi Pendidikan Modern dan Makna 100 Tahun Gontor

Next Post

Kunci Sukses dalam Hidup

Fathur Roji

Fathur Roji

Jurnalis, Web Content, Penulis Buku Biografi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kesyukuran Wisuda Angkatan Ke-11 STKQ Al-Hikam Depok Hadirkan Puluhan Lulusan Berkualitas

Kesyukuran Wisuda Angkatan Ke-11 STKQ Al-Hikam Depok Hadirkan Puluhan Lulusan Berkualitas

19 October 2026
Tidak Hanya Luluskan Wisudawan, STKQ Al-Hikam Depok Mulai Lahirkan Sebelas Wisudawati Terbaik

Tidak Hanya Luluskan Wisudawan, STKQ Al-Hikam Depok Mulai Lahirkan Sebelas Wisudawati Terbaik

19 October 2026
Teman Paling Baik Menurut Al-Qur’an

Teman Paling Baik Menurut Al-Qur’an

22 October 2026
Mahasiswa AFI UNIDA Gontor Belajar Menjadi Pemimpin dan Ayah di Rumpun Nurani

Mahasiswa AFI UNIDA Gontor Belajar Menjadi Pemimpin dan Ayah di Rumpun Nurani

21 October 2026
Gontor 7 Kalianda Gelar Pergantian Pengurus OPPM

Gontor 7 Kalianda Gelar Pergantian Pengurus OPPM

22 October 2026
Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

0
Menembus Pasar Global: IKAPI Jakarta dan Rene Turos Group Meriahkan BSI International Expo 2026

Menembus Pasar Global: IKAPI Jakarta dan Rene Turos Group Meriahkan BSI International Expo 2026

0
Nur El Haq Luwu Studi Banding ke PMDG Putri Kampus 3 Karangbanyu Ngawi

Nur El Haq Luwu Studi Banding ke PMDG Putri Kampus 3 Karangbanyu Ngawi

0
Ma’had Al Muqaddasah Li Thafidzil Qur’an Gelar Haflah Khotmil Qur’an Ke-23

Ma’had Al Muqaddasah Li Thafidzil Qur’an Gelar Haflah Khotmil Qur’an Ke-23

0
Perkuat Pemahaman Wakaf Produktif INCEIF Gelar Kunjungan ke UNIDA Gontor

Perkuat Pemahaman Wakaf Produktif INCEIF Gelar Kunjungan ke UNIDA Gontor

0
Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

Hari Santri Nasional: Wagub Banten Dorong Pencak Silat Jadi Mulok Wajib Pesantren

24 October 2026
UNIDA Gontor Gelar Pesantren Kilat Ramadhan di SDN Wakah 1

Malaikat Pencatat Amal sebagai Sumber Nilai Kejujuran dan Tanggung Jawab dalam Pembelajaran Akidah Akhlak

24 October 2026
Nur El Haq Luwu Studi Banding ke PMDG Putri Kampus 3 Karangbanyu Ngawi

Nur El Haq Luwu Studi Banding ke PMDG Putri Kampus 3 Karangbanyu Ngawi

24 October 2026
Ma’had Al Muqaddasah Li Thafidzil Qur’an Gelar Haflah Khotmil Qur’an Ke-23

Ma’had Al Muqaddasah Li Thafidzil Qur’an Gelar Haflah Khotmil Qur’an Ke-23

24 October 2026
Menembus Pasar Global: IKAPI Jakarta dan Rene Turos Group Meriahkan BSI International Expo 2026

Menembus Pasar Global: IKAPI Jakarta dan Rene Turos Group Meriahkan BSI International Expo 2026

24 October 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Buku ini ditulis untuk kamu yang sedang atau pernah menjalani kehidupan di pesantren. Pesan sekarang atau kunjungi stan Majalah Gontor di ESPECTO BAZAR.
  • ESPECTOR BAZAR AL HASSAN BEKASI 24 - 25 OKTOBER 2026.  DAPATAKAN DISKON 15% BAGI PEMESAN BUKU INI VIA INSTAGRAM. 
BELUM TERMASUK ONGKIR. 
UNTUK PEMESANAN BISA JAPRI ADMIN.
  • Assalamu
  • Pre Order dibuka kembali hingga 25 Oktober 2026

Link pembelian bisa dilihat di bagian akhir gambar atau di profile.
atau bisa langsung ke link dibawah ini :
https://tinyurl.com/pesan-baju

#majalahgontor 
#gontornews
  • Telah terbit dan bisa dipesan
Majalah Gontor Edisi Oktober 2026
pemesanan bisa ke nomor :
081234160133

untuk edisi khusus 100 tahun gontor bisa dipesan melalui link dibawah ini
https://bit.ly/pesan-majalah

#majalahgontor 
#gontornews 
#pesanmajalah
  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.

#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025

Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan: 
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-

Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802

Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews 

#majalahgontor 
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.

Ukuran : S, M, L, XL

Link Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju

#majalahgontor 
#gontornews
  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .

Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah

#majalahgontor
#gontornews

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result