Jakarta, Gontornews — Pengasuh Pondok Pesantren Darul Amanah, KH Muhammad Fatwa MPd, tampil sebagai figur utama dalam mendorong transformasi pendidikan pesantren berbasis holistik di era modern.
Darul Amanah secara konsisten membuktikan bahwa pendidikan pesantren tidak hanya berfokus pada ilmu agama (tafaqquh fiddin), tetapi juga mencakup pembentukan karakter kebangsaan, kepemimpinan, dan keterampilan hidup.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Amanah (STAIDA) Kendal ini menegaskan bahwa pembentukan karakter santri diawali dari pembinaan komprehensif di dalam pondok, yang dibuktikan dengan aktifnya santri dalam ajang Jambore Nasional (Jamnas) serta berbagai kejuaraan lomba nasional di bidang akademik, keagamaan, maupun ekstrakurikuler.
“Pendidikan pesantren modern tidak boleh mengurung potensi santri. Keikutsertaan santri kami di ajang Jambore Nasional dan berbagai kompetisi tingkat nasional merupakan arena bagi mereka untuk melatih kepemimpinan, mental juara, serta memperluas wawasan kebangsaaÃn secara nyata di luar tembok pesantren,” ujar Kiai Fatwa dalam keterangan di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Sabtu (6/9/2026).
Keberhasilan sistem pendidikan holistik yang diusung Kiai Fatwa tidak hanya terlihat pada level santri aktif, melainkan berdampak jangka panjang hingga ke jenjang alumni. Hal ini terbukti nyata dengan berhasil dilantik dan berbaginya lima alumni santri Pondok Pesantren Darul Amanah yang resmi tergabung dalam keluarga besar alumni Lembaga Ketahanan Lemhannas) Republik Indonesia.
“Keberhasilan lima alumni kami yang berhasil melintasi program penggemblengan wawasan kebangsaan di Lemhannas ini merupakan bukti konkret bahwa pendidikan pesantren mampu melahirkan kader kepemimpinan nasional yang responsif terhadap ketahanan negara,” ungkap Kiai Fatwa.
Menurut Kiai Fatwa, masuknya para alumni ke lembaga pengkaderan strategis tingkat nasional seperti Lemhannas merupakan wujud nyata dari konsep pendidikan holistik yang berkelanjutan (sustainable education).
“Santri hari ini harus hadir di setiap lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Bergabungnya lima alumni Darul Amanah dalam keluarga besar alumni Lemhannas membuktikan bahwa pelatihan di Lemhannas merupakan bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan pendidikan holistik—yang memadukan olah pikir, olah rasa, olah jiwa, dan wawasan kebangsaan—baik di dalam maupun di luar lingkungan pesantren,” terang Kiai Fatwa.
Disebutkan dalam press release bahwa melalui pendekatan holistik yang menyentuh semua aspek kehidupan, Darul Amanah mengajarkan pendidikan seperti sepak bola, hingga kepramukaan namun tak melupakan asas pesantren melalui pengajaran kitab kuning.
Membangun Pendidikan Holistik hingga Perguruan Tinggi
Dirinya menambahkan bahwa pendidikan holistik di Darul Amanah tidak hanya terbatas pada pendidikan pesantren, namun juga di tingkat perguruan tinggi. Diketahui bahwa Darul Amanah telah mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Amanah (STAIDA) pada 2025.
“Dengan pendidikan berbasis holistik kami telah menerima 40 mahasiswa di angkatan pertama, dan atas kepercayaan masyarakat, kini kami menerima 450 mahasiswa dari berbagai kalangan,” kata Kiai Fatwa sebagai Rektor STAIDA.
Dengan pendidikan holistik, STAIDA mengajarkan para mahasiswanya dengan kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ) agar saling mendukung dalam menghadapi dunia kerja maupun masyarakat.
“Saat ini kami menawarkan jurusan Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah agar bisa berguna dan bermanfaat bagi masyarakat,” terangnya.
Dalam acara yang sama, Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK), turut menggarisbawahi pentingnya keterpaduan Tiga H (Head, Hands, and Heart) dalam pendidikan holistik pesantren yang harus tecermin dalam kepedulian sosial.
“Pendidikan heart itu berbicara tentang perasaan, akhlak, atau spirit, sedangkan hands adalah kemampuan bekerja. Dalam merespons berbagai musibah seperti bencana di NTT, solidaritas serta partisipasi sosial masyarakat harus tinggi sebagai wujud nyata dari nilai-nilai kepedulian tersebut,” tutup Jusuf Kalla. [Edithya Miranti]






















