Banyak pekerjaan, banyak pikiran, dan banyak persoalan yang harus diselesaikan. Walaupun demikian, jangan sampai semua itu membuat kita “mengeluh” apalagi sampai menyerah menghadapinya. Kamu selamanya akan menjadi manusia yang lemah apabila setiap kali mendapatkan masalah selalu mengeluh. Ingatlah kata- kata Pak Sahal tatkala beliau dihadapkan pada masalah besar dan amat sulit untuk diselesaikan. Pak Sahal selalu berkata, “Hayo…. Jajal awak mendah matio!” (“Ayo … coba selagi kamu belum mati!”).
Jikalau kita terbiasa menghadapi segala permasalahan di depan mata untuk diselesaikan secepat-cepatnya, niscaya masalah-masalah tersebut akan cepat berlalu hingga akhirnya kita mampu menyelesaikan masalah dengan dinamika yang tinggi. Dalam hal ini, ibaratnya, musuh janganlah dicari, tapi andaikata musuh sudah datang, janganlah sampai kita lari terbirit-birit. Maka, marilah kita mencoba kemampuan kita untuk menghadapi dan menyelesaikannya.
Yang paling sulit kita lakukan yaitu menata hati dan menata pikiran. Kalaulah sesekali kita diserang, dihujat, dikritik orang, maka sebaiknya kita melawan dengan hasil karya nyata dari pekerjaan kita. Lawanlah dengan prestasi, lawan dengan peningkatan dan kemajuan. Itulah hakikat dari filsafat ini, ”Bertahan yang paling baik adalah menyerang”.
Kebiasaan kita bekerja dengan dinamis akan memudahkan kita dalam segala hal. Sebaliknya, jika kita tidak terbiasa bersikap dinamis dalam pekerjaan, maka kita akan kesulitan menyelesaikannya. Maka hendaknya janganlah sampai kita menjadi orang yang bodoh dan pemalas sehingga menyebabkan kita menjadi pengemis.
Di samping itu, jika terdapat seorang pemberani namun pemalas, tidak lain pekerjaannya merampok. Orang yang terbiasa menyelesaikan pekerjaan dalam setiap jejak langkahnya akan merasakan alangkah mudahnya hidup ini. Jika produktivitas kita cepat maka hati kita akan terasa lega. Intinya, jangan sampai kita hanya mengeluh.
Lantas, bagaimanakah kita menghadapi dinamika kehidupan? Kuncinya dengan banyak mengambil inisiatif, banyak berdoa dan mujahadah dengan membaca shalawat dan berdzikir. Di dalam berdoa, dibutuhkan keyakinan bahwa Allah akan mengabulkan doa kita. Kalau kita meminta kepada-Nya dengan penuh keyakinan maka Allah akan mendengar doa kita.
Pernah ada sebuah cerita ketika Rasulullah SAW sedang berjalan di alam terbuka, tiba-tiba tampaklah luapan api yang menyala besar. Kemudian jatuhlah setetes air yang seketika itu juga memadamkannya. Maka Rasulullah SAW bertanya kepada Jibril, ”Air apakah itu, wahai Jibril?” Maka, Jibril menjawab bahwa itu adalah air mata karena takut kepada Allah.
Ketahuilah bahwasanya manusia itu lemah, namun manusia mempunyai kekuatan bersama. Allahlah yang menguatkan kita karena semua kekuatan itu datangnya dari Allah maka kita harus meminta pertolongan kepada-Nya. Kekuatan lahir dan batin.
Bila kita menghadapi bermacam-macam masalah besar, baik pribadi ataupun kelompok, lembaga atau organisasi, kita harus menghadapinya bersama-sama karena al-barakah ma‘al–jama‘ah.
Sebelum kita melangkah pada suatu Langkah, hendaknya kita mempunyai niat atau iktikad yang baik. Langkah yang baik, dan niat atau iktikad yang baik itu merupakan setengah perjalanan.
Kita akan mengarungi perjalanan kehidupan yang lain. Untuk itu, hendaknya kita mengikhlaskan hati ini sepenuhnya karena belum tentu dengan niat yang baik itu seseorang akan ikhlas. Seperti berkirim surat yang dialamatkan kepada Yang Terhormat Tuhan. Maka, tentunya kita membutuhkan alamat yang benar, yaitu dengan membaca al-Asma’ul Husna terlebih dahulu sebelum kita meminta sesuatu. Bila kita hanya meminta saja, maka kita akan kesulitan menggapainya. Apabila telah jelas siapa yang kita maksud, maka semua yang kita kerjakan itu semua karena Allah (lillah).
Namun, semua itu belumlah cukup untuk mewujudkan harapan kita. Betapa banyak orang yang mempunyai niat baik dan ikhlas karena Allah (lillah) akan tetapi tidak mengetahui apa yang harus dikerjakan untuk mendapatkannya. Oleh karena itulah, kita harus mengenali pekerjaan dan lapangan perjuangan kita.
Tidak cukup sampai di situ, jika benar-benar menginginkan terkabulnya segala cita-cita, maka kita harus mempunyai kemampuan untuk bertahan dan istiqamah, tentunya dengan disiplin. Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa sesuatu yang hak atau suatu kebenaran tanpa disiplin akan dikalahkan oleh kejahatan yang berdisiplin.
Bila kita sudah mengerjakan segalanya dengan niat yang baik dan ikhlas kepada Allah serta berdisiplin, maka semuanya kita serahkan kepada Allah SWT. Tetap yakinkan hati kepada Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Berkehendak. Mantapkanlah hati untuk tidak niat sana, niat sini, hati tidak setengah-setengah. Juga tidak hanya diam saja tanpa mengerjakan apa-apa. []






















