Jakarta, Gontornews — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin kembali mengajak seluruh komponen bangsa untuk menanggapi perkembangan globalisasi dengan bijak. Menurutnya, kemajuan teknologi informasi harus disyukuri sebagai sebuah nikmat. Karenanya, kita dengan mudah, cepat dan murah, mampu mendapatkan banyak hal dari seluruh dunia.
“Informasi-informasi dengan cepat menyebar seakan dunia ini kini tanpa batas, meski demikian, kita harus waspada akan sisi negatif globalisasi ini. Kita butuh ketelitian, kearifan, kebijaksanaan untuk mencerna informasi yang kita dapatkan, agar tidak terseret dalam permusuhan dan perpecahan,” jelas Menag saat memberi sambutan pada Tabligh Akbar dan Peletakan Batu Pertama Ponpes Shohibul Muslimin (Parmusi Center), Provinsi Banten, Ahad (22/1).
Di hadapan tokoh masyarakat dan santri, Menag menceritakan kisah fitnatul qubro atau fitnah besar di mana Khalifah Utsman bin Affan dan Khalifah Ali bin Abi Thalib terbunuh karena berita bohong (hoax). Sahabat Utsman misalnya, dibunuh oleh seorang Muslim, yang tidak sembarang Muslim, bukan Muslim awam, tapi seorang hafidz. Dia tergerak sendiri, membunuh sendiri, karena berita hoax, di mana sahabat Utsman diduga diisukan melakukan KKN, yakni nepotisme yang mementingkan familinya saja, tanpa tabayyun atau klarifikasi atas berita tersebut,” ujar Menag.
Menag melanjutkan, sahabat Ali juga terbunuh oleh Muslim juga karena salah paham, oleh berita fitnah tak berdasar. Dampaknya, kata Menag, karena beda tafsir lalu berimplikasi pada perkembangan umat Islam hingga kini, baik di bidang syariah, aqidah, tasawuf dan lain sebagainya. “Karenanya, mari jaga Indonesia kita,” ajak Menag. [M Khaerul Muttaqien/Rus]



















