Paris, Gontornews — Pemerintah Prancis memutuskan untuk tidak mempertimbangkan penguncian wilayah (lockdown) meski kasus infeksi harian meningkat. Pemerintah lebih memilih untuk memberlakukan jam malam lebih awal pada suatu wilayah dengan dampak Covid-19 terparah.
“Kami mengesampingkan gagasan penguncian untuk saat ini, baik secara nasional ataupun lokal,” kata Menteri Kesehatan Prancis, Olivier Veran, kepada Reuters.
“Tetapi, kami akan mengusulkan perpanjangan jam malam yang dimulai pukul 6 sore dan tidak lagi jam 8 malam di sejumlah area yang memerlukan,” sambung Veran.
Prancis merupakan salah satu negara di Benua Eropa dengan kasus infeksi yang terkonfirmasi mencapai 2,57 juta kasus. Angka ini merupakan yang tertinggi kelima dunia setelah Amerika Serikat, Brazil, India dan Rusia. Padahal, Prancis telah memberlakukan dua kali penguncian wilayah yaitu pada 17 Maret-11 Mei 2020 dan 30 Oktober-15 Desember 2020.
Sejak masa penguncian wilayah berakhir, Pemerintah Prancis beralih pada pemberlakuan jam malam mulai pukul 8 malam waktu setempat. Tidak hanya itu, Pemerintah juga menutup sejumlah cagar budaya karena penambahan kasus infeksi harian di Prancis mencapai lebih dari 5.000 kasus.
Bahkan, otoritas kesehatan Prancis melaporkan penambahan 11.395 kasus pada Selasa (29/12). Angka ini sekaligus menjadi lonjakan di atas 10.000 kasus dalam empat hari beruntun. Secara rata-rata, pemerintah mencatat rata-rata peningkatan kasus positif Covid-19 dalam sepekan terakhir mencapai 11.871 kasus.
Sejauh ini, Prancis mengonfirmasi penambahan 969 kasus kematian akibat Covid-19. Angka ini sekaligus menjadikan kasus kematian akibat Covid-19 di Prancis menjadi 64.078 kasus dengan rata-rata kematian per pekan berada di angka 339 kasus. [Mohamad Deny Irawan]






















