Budapest, Gontornews — Turki telah mengecam seruan tentara Armenia untuk pengunduran diri Perdana Menteri Nikol Pashinyan. Sebab, seruan itu merupakan kudeta militer.
“Kami benar-benar menentang kudeta militer dan upaya kudeta di mana pun di dunia. Kami mengutuk keras upaya kudeta di Armenia,” kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlüt Çavuşoğlu kepada wartawan pada konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Hungaria Peter Szijjarto di Budapest pada 25 Februari.
Dalam demokrasi, papar Çavuşoğlu, rakyat dapat mengkritik pemerintah dan meminta pengunduran diri mereka. Tapi seruan tentara untuk pengunduran diri perdana menteri yang dipilih secara demokratis, apalagi menggulingkannya, tidak dapat dibenarkan. “Itulah mengapa kami sangat mengutuk seruan tentara Armenia ini,” katanya dikutip Hurriyetdailynews.com.
Çavuşoğlu menegaskan kembali perlunya stabilitas regional di Kaukasus setelah perang Armenia-Azerbaijan. “Ada jendela peluang untuk stabilitas kawasan. Stabilitas ini harus mencakup seluruh kawasan dan tidak hanya melalui normalisasi hubungan antara Armenia dan Azerbaijan,” katanya.
Turki dan Iran telah mengusulkan inisiatif regional melalui format 3 + 3 sehingga Turki, Iran, Azerbaijan, Armenia, Georgia dan Rusia dapat bersatu untuk mempromosikan kemakmuran dan perdamaian di Kaukasus.
“Oleh karena itu, stabilitas di setiap negara sangat penting. Tindakan tentara Armenia ini mengganggu stabilitas,” kata Çavuşoğlu.
Turki mendukung Azerbaijan dalam perang enam pekan pada tahun 2020 yang berakhir dengan pembebasan wilayah Azerbaijan yang diduduki Armenia sejak awal 1990-an. Turki dan Armenia telah menutup perbatasannya dan tidak memiliki hubungan diplomatik karena pendudukan Armenia di Nagorno-Karabakh yang merupakan wilayah Azerbaijan. []




















