Jakarta, Gontornews — Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI mengoptimalkan pemberdayaaan kelompok perajin batik, Kelompok Putri Berdikari Batik, di Desa Sumurgung, Kabupaten Tuban, Jawa Timur agar tetap produktif di tengah pandemi.
Batik dan tenun mahakarya para perajin batik Tuban, binaan Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Mustahik (LPEM) BAZNAS ini merupakan kelompok penghasil kain batik dan tenun yang pernah dipakai para model dalam ajang Eco Fashion Week Indonesia, di Gedung Kebangkitan Nasional pada 2018 dan ‘Fashion Show on Train’, di Kereta Api Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, pada 2019 silam.
Sahabat ZCD Sumurgung, Musyawir, memaparkan ada empat program yang akan dilakukan kelompok tersebut pada Maret 2021. Di antaranya optimalisasi pemasaran produk batik pewarnaan alami selama 12 kali pertemuan bersama tim direksi pemasaran produk, optimalisasi Rumah Baca Harapan melalui agenda Baca Tulis Qur’an, pengolahan limbah potongan kain batik dan plastik (limbah rumah tangga), proses kaderisasi pada program Rumah Baca, dan kliping dokumentasi setiap kegiatan.
“Program yang akan dan sudah dilakukan pada Maret ini berdasarkan pengamatan dan kebutuhan keluarga mustahik. Harapannya, program itu tidak hanya memberi jawaban terhadap persoalan yang dihadapi mustahik, tetapi menjadi proses pembelajaran bagi sahabat ZCD yang melakukan pendampingan langsung dalam program ZCD beserta Eco-Fashion Community Yayasan Sahabat Pulau Indonesia,” tuturnya.
Seperti diketahui, industri fashion ikut terdampak adanya pandemi Covid-19, termasuk para perajin batik. Mereka harus bertahan di tengah menurunnya penjualan karena kini masyarakat dibatasi kegiatannya untuk meminimalisir penularan.
Kelompok Putri Berdikari Batik adalah salah satu kelompok mustahik binaan BAZNAS yang selama pandemi Covid-19 tetap melakukan produksi kain batik. “Menurut ketua kelompok, sejak April hingga Oktober 2020, proses membatik dilakukan tiga kali dalam sepekan. Kemudian, optimalisasi Rumah Baca Harapan Sahabat Pulau Indonesia dalam mendukung pendidikan dijadwalkan hanya sekali dalam sepekan,” ungkap Musyawir. []




















