Fujairah, Gontornews — Oman memberikan konfirmasi resmi pertama pada hari Rabu (4/8) bahwa kapal tanker Asphalt Princess dibajak di Laut Arab setelah badan perdagangan maritim Inggris sebelumnya melaporkan insiden itu telah berakhir.
Pusat Keamanan Maritim Oman mengatakan di Twitter bahwa mereka telah menerima informasi tentang Asphalt Princess berbendera Panama yang menjadi sasaran “insiden pembajakan di perairan internasional di Teluk Oman” dan bahwa angkatan laut kesultanan telah mengerahkan beberapa kapal untuk membantu mengamankan perairan internasional.
Angkatan Laut Inggris mengatakan para pembajak yang menaiki sebuah kapal di lepas pantai UEA di Teluk Oman telah meninggalkan kapal yang menjadi target, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
Pemberitahuan pada hari Rabu datang setelah Operasi Perdagangan Maritim Inggris memperingatkan tentang “potensi pembajakan” yang berlangsung malam sebelumnya.
Kelompok itu melaporkan bahwa “insiden itu selesai.” Namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.
Kapal tanker aspal berbendera Panama, Asphalt Princess, sebelumnya dilaporkan disita di lokasi 60 mil laut di lepas pantai Fujairah di pantai timur UEA, di area laut yang mengarah ke Selat Hormuz.
Sumber-sumber keamanan Inggris mengatakan, mereka yang membajak kapal itu bekerja seperti militer atau proksi Iran.
Operasi Perdagangan Maritim Inggris awalnya memperingatkan kapal-kapal pada hari Selasa bahwa “sebuah insiden sedang berlangsung” di lepas pantai Fujairah. Beberapa jam kemudian, mereka mengatakan insiden itu merupakan sebuah pembajakan.
Pada Selasa sore setidaknya lima kapal di laut antara UEA dan Iran mengubah status pelacakan otomatisnya menjadi “Not Under Command,” status yang biasanya menunjukkan sebuah kapal tidak dapat bermanuver karena keadaan luar biasa.
Namun Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan laporan insiden keamanan yang melibatkan beberapa kapal di dekat pantai UEA “mencurigakan,” dan memperingatkan ada upaya untuk menjadikan Iran sebagai ‘kambing hitam’.
Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan pada hari Selasa bahwa Iran bertindak secara negatif di seputar Timur Tengah, membahayakan pelayaran dan perdagangaan, mempersenjatai milisi Houthi di Yaman dan berkontribusi pada kebuntuan politik di Lebanon.
“Di seluruh kawasan, Iran terus berani,” katanya. “Iran sangat aktif dengan perilaku negatifnya di kawasan.”
Ketegangan meningkat di Teluk sejak serangan oleh pesawat tak berawak Iran yang sarat bahan peledak di MT Mercer Street di lepas pantai Oman pekan lalu. Dalam serangan itu, kapten kapal tanker Rumania dan seorang penjaga keamanan Inggris tewas.
Kapal itu dioperasikan oleh perusahaan Israel. Israel, Inggris, dan AS mengatakan akan ada “balasan kolektif” terhadap serangan itu.
Sejak 2019 di Perairan Fujairah kerap terjadi serangkaian ledakan dan pembajakan. Angkatan Laut AS menyalahkan Iran atas serangkaian serangan terhadap kapal yang merusak tanker.
Pada tahun 2019, Iran merebut kapal Stena Impero yang berbendera Inggris pada 19 Juli di Selat Hormuz saat menuju ke Dubai dari pelabuhan Iran di Bandar Abbas. Serangan itu terjadi setelah pihak berwenang di Gibraltar, wilayah luar negeri Inggris, menyita sebuah supertanker Iran yang membawa minyak mentah senilai $130 juta karena dicurigai melanggar sanksi Uni Eropa dengan membawa minyak ke Suriah. Kedua kapal itu kemudian dibebaskan.[]






















