Kabul, Gontornews — Pendiri dan pemimpin politik Taliban kembali ke Afghanistan dengan penuh kemenangan pada hari Selasa ketika para militan menjanjikan hubungan damai dengan negara-negara lain dan menghormati hak-hak perempuan.
Arabnews.com merilis, Mullah Abdul Ghani Baradar, yang secara luas dianggap sebagai presiden negara berikutnya, terbang dari Qatar ke Kandahar – tempat kelahiran spiritual Taliban dan ibukota Afghanistan ketika mereka memerintah pada tahun 1996 hingga 2001.
Baradar berada di penjara di Pakistan dari 2010 hingga 2018, ketika dia dibebaskan atas permintaan AS. Dia memimpin delegasi Taliban pada pembicaraan di Doha, dan menandatangani perjanjian damai dengan AS pada Februari.
Saat pesawat Baradar mendarat, AS dan sekutu Barat melanjutkan penerbangan evakuasi untuk diplomat dan warga sipil dari bandara Kabul sehari setelah adegan kekacauan ketika warga Afghanistan memadati landasan.
Sekitar selusin penerbangan berangkat pada hari Selasa, meskipun Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly mengatakan penghalang jalan Taliban di bandara membuat akses menjadi sulit.
Setelah menguasai Kabul, Taliban mengadakan jumpa pers di ibukota pada hari Selasa di mana mereka berusaha untuk menghilangkan ketakutan akan kembalinya kekuasaan keras mereka sebelumnya.
“Kami tidak menginginkan musuh internal atau eksternal,” kata juru bicara Zabihullah Mujahid. Perempuan bisa bekerja dan belajar, dan akan “aktif sesuai syariat Islam,” katanya.
Mujahid mengatakan Taliban tidak akan balas dendam terhadap mantan tentara dan pegawai pemerintah yang didukung Barat, dan gerakan itu memberikan amnesti untuk mantan tentara pemerintah Afghanistan, serta untuk kontraktor dan penerjemah yang bekerja untuk pasukan internasional.
“Tidak ada yang akan menyakiti Anda, tidak ada yang akan mengetuk pintu Anda,” katanya, dan ada “perbedaan besar” antara Taliban sekarang dan 20 tahun yang lalu.
Dia mengatakan media swasta bisa terus bebas dan independen di Afghanistan, dan Taliban menghormati media dalam kerangka budaya mereka.
Dia juga mengatakan keluarga yang mencoba melarikan diri dari negara itu di bandara Kabul harus kembali ke rumah, dan tidak ada bahaya yang akan menimpa mereka.
Setelah briefing, jurubicara PBB Stephane Dujarric mengatakan: “Kita perlu melihat apa yang sebenarnya terjadi dan saya pikir kita perlu melihat realisasi janji itu di lapangan.”
Di Kabul, para pejabat Taliban mengunjungi kuil-kuil utama Sikh dan Hindu di kota itu untuk menjanjikan perlindungan bagi minoritas agama, dan meminta petugas kesehatan perempuan untuk melanjutkan pekerjaan mereka.
Di jalan-jalan ibukota, perempuan menjalankan aktivitasnya di luar ruangan, banyak yang sendirian dan tanpa penutup wajah, sementara toko-toko dan pasar dibuka kembali. []


















