Kriteria alumni Gontor yang utama yaitu: Berbudi tinggi, al-akhlak al-karimah. Sebagai dasar segala sesuatu, orang pandai yang tidak berakhlak mulia akan berbahaya. Pemimpin yang tidak berbudi tinggi, rakyatnya akan sengsara. Israel, bangsa yang cerdas tapi tidak berbudi tinggi, akhirnya merusak di mana-mana. Alam rusak kalau manusia tidak berbudi tinggi.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ (الروم : 41)
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.”
Baru kemudian berbadan sehat, berpengetahuan luas dan berpikiran bebas.
Saat ini, masa belajarmu di KMI sudah hampir habis. Ibarat produk sudah hampir selesai prosesnya, tinggal sentuhan-sentuhan akhir. Proses yang dilalui panjang, seperti pohon, ditunggu besar, ditebang, dibentuk, dijadikan meuble, didempul, diplitur, diberi antigores dan seterusnya.
Pembekalan ini untuk imunitas, antigores. Alumni yang tidak mempunyai antigores akan mudah dipengaruhi dan berubah. Gereh (ikan asin), ikan yang berubah, tidak lagi fresh. Ada alumni yang sekolah di luar kemudian berubah, seperti ikan menjadi gereh. Tidak seperti ikan segar yang meski hidup di laut asin tetap tawar (segar). Ini bedanya antara ikan yang hidup dan yang mati. Maka, anak-anak jangan mati di masyarakat; mati pikiran, pengalaman, hati dan lain-lain. Jadilah ikan, jangan jadi gereh!
Ojo gumunan – ojo kagetan: semua orang mempunyai unsur positif dan negatif; jangan memuji orang yang masih hidup; dia masih bisa berubah. Rasulullah SAW bersabda:
أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْناً مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْماً مَا،
وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْناً مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْماً مَا
Artinya: Cintailah kekasihmu sekadarnya saja, sebab bisa jadi suatu saat kelak kamu akan membencinya, dan jika kamu benci seseorang, bencilah dengan sewajarnya saja, sebab mungkin kelak suatu saat kamu akan mencintainya (HR Tirmidzi).
Ojo getunan: Jangan menyesal. Penyesalan tidak ada artinya. Evaluasi, muhasabah, dan memperbaiki diri harus. Tetapi hanya meratap dan menyesali diri akan menderita. Penyesalan adalah penderitaan.
Ojo aleman: Manja diri, ngambekan, protesan.
Hati-hati, sebentar lagi tamat. Jangan tergoda dan terpeleset. Ikuti disiplin dan ketentuan pondok. Proses yang ada inilah yang menjadikan kalian berhasil. Jangan meninggalkan proses. Proses tidak mengkhianati hasil.
Setelah tamat nanti, ada proses lanjutan, pengabdian, minimal satu tahun. Sebelum ada pengabdian, anak-anak banyak yang enggan kembali ke masyarakat dan tidak mengetahui permasalahan masyarakat. Santri harus tanggap dan menjadi mundzirul qaum dan munqidzul qaum.
Kemasyarakatan: sesuai dengan Piagam Wakaf. Perjuangan Islam, pendidikan, dakwah, mengajar, kesejahteraan umat lahir batin, dunia akhirat.
Bermasyarakat itu prinsipnya:
اُنْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُوْمًا
“Tolonglah saudaramu, baik yang zalim ataupun yang mazlum/teraniaya.” Yang mazlum (teraniaya) dibela, yang zalim dicegah supaya tidak zalim. []
*)Disampaikan dalam acara Pembekalan Siswa Akhir KMI Pondok Modern Darussalam Gontor, Jumat, 8 Maret 2024. Tulisan disadur dari buku “The Garden of Wisdom: Ethical Educational Wisdom. Wejangan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Drs KH Akrim Mariyat, Dipl.A.Ed”.



















