Semboyan kita ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian. Kalau ujian untuk belajar, berarti adanya ujian akan semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas belajar santri, ujian sebagai sarana pendidikan dan pembelajaran. Namun sebaliknya, bila prinsipnya “belajar untuk ujian”, maka santri hanya akan belajar bila akan menghadapi ujian, belajar semata-mata untuk tujuan pragmatis sementara, bukan sebagai bentuk ibadah, menunaikan perintah Allah, lillahi ta’ala.
Pengertian kurikulum menurut Gontor adalah semua yang terpogram di Pondok yang meliputi semua aspek kehidupan santri secara total selama 24 jam. Kurikulum adalah jalan (sarana) untuk meraih tujuan pendidikan.
Tujuan pendidikan di Gontor sesuai dengan motto pendidikan pondok: Berbudi Tinggi, Berbadan Sehat, Berpengetahuan Luas dan Berpikiran Bebas. Penerapan motto ini harus runtut. Berbudi Tinggi sebagai pangkal dan pokok tujuan pendidikan kita. Misi risalah Nabi Muhammad SAW terangkum dalam ungkapan: Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhklak yang mulia.
Berbudi Tinggi itu bernilai tinggi, mahal dan akan tetap dicari dan dibutuhkan orang, seperti kayu jati, intan, gaharu dan lain-lainnya yang berkualitas tinggi, di mana pun berada akan diburu orang dan kemudian dihargai dengan nilai yang mahal sekali.
Memang tidak mudah membuat orang berbudi tinggi. Kita hanya berusaha maksimal melalui berbagai sarana dan program pendidikan, selanjutnya bertawakal kepada Allah. Usaha kita dengan menerapkan kurikulum sebaik-baiknya. Karena itu, kurikulum selalu ditinjau.
Ujian ini bagian dari kurikulum. Yang diuji bukan hanya ilmunya, tetapi juga mentalnya (etikanya). Yang menguji juga harus berbudi tinggi, mengajukan pertanyaan yang membuat anak mau belajar, bukan teka-teki. Pertanyaan yang edukatif, tentang hal-hal yang sudah diajarkan dan dengan logika yang benar.
Tingkatkan soal ada tiga: ada yang mudah, sedang dan sulit. Dan di dalam ujian syafahi guru boleh menjelaskan jawabannya, kalau memang santri tidak bisa atau salah paham, karena intinya untuk pembelajaran, bukan semata-mata mendapatkan nilai dari jawaban santri.
Melihat dan merasakan kemajuan Gontor hendaknya kita sikapi dengan bersyukur, bukan berbangga. Bangga dekat dengan takabbur, kalau syukur dekat dengan tawadhu’.
Ada tiga hal yang ada pada setiap orang, di mana kondisinya yang satu dengan lainnya saling mempengaruhi, yaitu: fisik, psikis dan sosial. []
*) Disampaikan dalam acara Pengarahan Ujian Syafahi Akhir Tahun Ajaran di Pondok Modern Darussalam Gontor, 29 Januari 2024. Tulisan disadur dari buku The Garden Wisdom Ethical and Educational Wisdom: Wejangan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Drs KH M Akrim Mariyat Dipl.A.Ed, yang disusun Ahmad Suharto.






















