Faktor yang menginspirasi berdirinya Pondok Modern Gontor: Pertama, dampak kejatuhan Khilafah Islamiyah. Kejatuhan Khilafah Utsmaniyah pada tahun 1924 menjadi titik balik bagi dunia Islam. Negara-negara Islam berupaya menggantikan peran khilafah, dengan Arab Saudi dan Mesir sebagai pemrakarsa utama. Namun, gagasan tersebut mendapat sambutan lebih luas di Arab Saudi di bawah kepemimpinan Malik Husain. Peristiwa ini menggugah umat Islam untuk berpikir dan berinovasi, termasuk dalam bidang pendidikan.
Kedua, Kongres Umat Islam. Kongres Umat Islam dunia diadakan di Mekkah, yang kemudian menginspirasi diadakannya Kongres Umat Islam Indonesia di Surabaya. Dalam kongres ini, dicari individu yang menguasai bahasa Inggris dan ilmu pengetahuan umum serta mereka yang menguasai bahasa Arab dan ilmu agama. Karena tidak ditemukan seorang yang memenuhi kedua kualifikasi tersebut, akhirnya dikirim dua perwakilan: HOS Cokroaminoto untuk bidang ilmu umum dan bahasa Inggris, serta KH Mas Mansur untuk bidang ilmu agama dan bahasa Arab.
Kongres tersebut menginspirasi KH Ahmad Sahal muda untuk mendirikan pondok yang mampu mencetak santri dengan dua kualifikasi utama: menguasai ilmu umum dan agama serta bahasa Arab dan Inggris. Ide ini kemudian disampaikan kepada kedua adiknya, Zainuddin Fananie dan Imam Zarkasyi. Pak Sahal, sebagai yang tertua, meminta kedua adiknya melanjutkan studi guna mempersiapkan diri sebelum memulai proyek pendidikan ini.
Pendidikan awal di Tarbiyatul Athfal saat kedua adiknya menempuh pendidikan di Solo, Padang Panjang dan Yogyakarta. Pak Sahal mulai merintis pendidikan di Gontor melalui program Tarbiyatul Athfal dan Sulamul Muta’allim selama sepuluh tahun. Meskipun bernama Tarbiyatul Athfal, santri yang belajar di dalamnya sebagian besar sudah dewasa, karena pada masa itu belum banyak lembaga pendidikan yang tersedia.
Saat memulai program Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI), Pak Zar membawa beberapa guru dari Padang untuk membantu mengajar. Awalnya, program Tarbiyatul Athfal masih menerima santri putra dan putri. Namun, ketika pak Zar tiba untuk memulai KMI, beliau mengusulkan agar program ini dikhususkan untuk santri putra. Meskipun sempat ragu, Pak Sahal akhirnya menyetujui gagasan tersebut.
Dengan dimulainya program KMI, sistem pendidikan di Pondok Modern Gontor mengalami perubahan besar. Kurikulum baru diterapkan dengan mengintegrasikan pelajaran intra, ekstrakurikuler dan kokurikuler, sesuatu yang belum ada di dalam sistem pondok salaf.
Pada usia sepuluh tahun Pondok Gontor, diadakan peringatan Jubileum sebagai momentum peresmian program KMI. Lima tahun kemudian, KMI berhasil meluluskan angkatan pertamanya. Gontor mulai dikenal sebagai pondok modern karena sistem pendidikannya yang berbeda dengan pondok salaf. Selain limu agama, santri juga diajarkan ilmu umum, didorong untuk aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler serta diwajibkan menggunakan bahasa Arab dan Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
Pada tahun 1960-an, Menteri Penerangan Ruslan Abdul Ghani mengunjungi Gontor. Setelah menyaksikan sistem pendidikan yang diterapkan, ia menyatakan bahwa sistem modern di Gontor merupakan bagian dari kebangkitan Islam (The Revival of Islam) di Indonesia.
Pada awalnya, program KMI hanya berlangsung selama lima tahun, setelah itu santri diperbolehkan mengajar adik kelasnya. Namun, pada tahun 1957, durasi pendidikan KMI diperpanjang menjadi enam tahun. Salah satu lulusan KMI, Abdul Mu’in, menciptakan lagu Hymne Oh Pondokku. Ia juga menantu Bapak Rahmat Sukarto, kakak tertua dari Trimurti Pendiri Pondok Modern Gontor.
Dengan perjalanan sejarah yang panjang dan transformasi yang terus berkembang, Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi model pendidikan pesantren yang mampu menjawab tantangan zaman, mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum, serta mencetak generasi santri yang unggul dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional.
Sannad Keilmuan Pendiri Pondok
Pendidikan ketiga Trimurti berawal di sekolah dasar di Nglumpang. Pada sore dan malam hari, mereka melanjutkan belajar di Pondok Al-Hikam Joresan. Karena keterbatasan kapasitas sekolah di Nglumpang, mereka bertiga meneruskan pendidikan di Josari Jetis sambil tetap menimba ilmu di Pondok Josari.
KH Ahmad Sahal melanjutkan pendidkannya di Pondok Siwalan Panji Sidoarjo, kemudian ke Pondok Tremas Pacitan. Pondok Tremas ketika itu dipimpin KH Abdul Mannan Dipomenggolo, mahasiswa pertama Indonesia yang bersekolah di Al-Azhar. Salah satu cucu beliau , KH Mahfudz at-Tarmasi, merupakan ahli hadis ternama di Mekkah. [] Bersambung
*Uraiaian tentang Sejarah Berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor ini disampaikan langsung oleh Prof Dr Amal Fathullah Zarkasyi MA di kediaman beliau secara lisan (dikte) pada hari Ahad, 22 Desember 2024. Tulisan disadur dari buku “The Garden of Wisdom: Cultural and Historical Wisdom. Wejangan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Prof Dr KH Amal Fathullah Zarkasyi MA” yang disusun oleh Ahmad Suharto






















