KH Ahmad Sahal aktif dalam pergerakan kebangsaan dan berguru kepada HOS Cokroaminoto di Surabaya. Selain itu, beliau juga mempelajari bahasa Belanda dan menjadi anggota Syarikat Islam, sehingga diundang sebagai perwakilan dalam Kongres Umat Islam di Surabaya.
Sementara itu, setelah menamatkan pendidikan di Josari, KH Zainuddin Fannani melanjutkan ke Kuliyyatul Muballighin di Yogyakarta sambil mempelajari ilmu jurnalistik. Beliau aktif sebagai muballigh dan penulis sehingga diutus menjadi Konsul Muhammadiyah di Sumatera Selatan dengan kantor di Palembang, namun beliau bertempat tinggal di Pagar Alam.
Sedangkan KH Imam Zarkasyi setelah belajar dari Pondok Josari, beliau melanjutkan pendidikan ke Pondok Jamsaren, kemudian ke Mamba’ul Ulum Solo (sekolah penghulu) yang didirikan oleh Keraton Solo dan Arabiyyah School yang dipimpin oleh Ustadz Al-Hasyimi dari Tunis.
Suatu ketika, KH Imam Zarkasyi mendapatkan kesempatan melanjutkan studi ke Al-Azhar Mesir. Namun, sayang jatah tersebut diambil oleh seorang anak Arab. Ustadz Al-Hasyimi menenangkan beliau dengan berkata: “Walaupun kamu tidak jadi belajar ke Al-Azhar, tetapi kamu bisa belajar dari alumni Al-Azhar yang ada di Indonesia.” Salah satunya Ustadz Mahmud Yunus di Padang, alumni Al-Azhar dan Darul Ulum Mesir. Dari Ustadz Al-Hasyimi, KH Imam Zarkasyi mempelajari filsafat hidup, termasuk bait-bait mahfuzhat tentang perjuangan hidup yang dipelajari di Arabiyyah School.
Sepulang dari Solo, KH Imam Zarkasyi ditanya oleh KH Ahmad Sahal tentang ilmu yang didapatkan. Setelah mendengar penjelasan dari adiknya, KH Ahmad Sahal berkata: “Kalau hanya itu saja yang kamu pelajari, maka kamu tidak usah pulang, pondok cukup saya ajar sendiri.” Maka beliau menyarankan adiknya untuk menambah ilmu karena dianggap ilmu tersebut belum cukup untuk menciptakan ulama intelek.
Atas saran Ustadz Al-Hasyimi, KH Imam Zarkasyi melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Perguruan Sumatera Thawalib di Padang Panjang. Perguruan ini sangat terkenal pada masanya, di antara alumninya yaitu Wakil Presiden Adam Malik dan Prof Hamka.
Karena KH Imam Zarkasyi sudah pernah belajar di Pondok Jamsaren, Manbaul Ulmum dan Arabiyah School, maka pendidikan beliau di Perguruan Sumatera Thawalib dicukupkan hanya dua tahun, maka beliau melanjutkan pendidikannya ke sekolah yang dipimpin oleh Ustadz Mahmud Yunus, yaitu Normal Islam atau Islamic Kweekschool.
Di Sumatera Thawalib dan Normal Islam, KH Imam Zarkasyi diajari tentang kurikulum modern yang menggabungkan ilmu dan agama, dengan disiplin tinggi serta kegiatan ekstrakurikuler serta mempelajari ilmu didaktik dan metodik karena Normal Islam merupakan sekolah guru.
Karena prestasi akademiknya, beliau ditugaskan menjadi direktur Islamic Kweekschool di Padangsidempuan sebelum kembali ke Gontor. Inilah cikal bakal sistem pengabdian setahun bagi lulusan KMI Gontor.
Dalam pertemuan di Pagar Alam, Trimurti merumuskan prospek pendidikan Gontor. Mereka sepakat memilih sistem KMI (Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah) sebagai sistem pendidikan di pondok.
Sintesa pondok diambil dari berbagai institusi internasional yaitu: institusi Al-Azhar di Mesir yang terkenal dengan kekuatan wakaf dan keabadiannya. Aligarh Muslim University di India yang memberikan inspirasi tentang kemodernan. Syanggit di Mauritania yang terkenal dengan kedermawanan para pengasuh dan guru-gurunya, dan Santiniketan di India yang terkenal dengan kedamaiannya. Ide dan wawasan ini diperoleh dari cerita KH Mas Manshur yang pernah sekolah di Al-Azhar dan berkunjung ke Syanggit, serta Ustadz Mahmud Yunus yang pernah kuliah di Al Azhar dan Darul Ulum.
KH Imam Zarkasyi merumuskan Panca Jiwa Pondok Pesantren dan rumusan tersebut disampaikan dalam sebuah pertemuan umat Islam yang membahas tentang Pondok Pesantren di Yogyakarta tahun 1964. Rumusan tersebut disetujui oleh seluruh peserta sidang.
KH Ahmad Sahal memulai pondok pada usia 25 tahun. Situasi masyarakat Gontor penuh dengan kemusyrikan, kejahatan, dan mo limo, maka tidak mudah memulai pendidikan agama. Dengan kehebatan beliau dalam bidang silat dan kepandaiannya untuk memulai dakwah dan pendidikan masyarakat, Pak Sahal mengumpulkan masyarakat khususnya dengan cara berakrobat, sehingga masyarakat menyaksikan atraksi. Setelah mereka berkumpul baru dimulai dakwah pelajaran ilmu agama sedikit demi sedikit.
Ketika itu, Pak Sahal mengajari mereka mandi, bersuci (thaharah), berpakaian dan sejenisnya. Perlu diketahui, bahwa Ahmad Sahal muda ketika itu sangat berwibawa di masyarakat karena menjadi pendekar silat. Dengan keahlian dan keberanian, KH Ahmad Sahal berhasil mendirikan pondok di tengah tantangan lingkungan yang penuh kejahatan dan kemaksiatan. Karena wibawa beliau, masyarakat menghormatinya. []
*Uraiaian tentang Sejarah Berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor ini disampaikan langsung oleh Prof Dr Amal Fathullah Zarkasyi MA di kediaman beliau secara lisan (dikte) pada hari Ahad, 22 Desember 2024. Tulisan disadur dari buku “The Garden of Wisdom: Cultural and Historical Wisdom. Wejangan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Prof Dr KH Amal Fathullah Zarkasyi MA” yang disusun oleh Ahmad Suharto.





















