Alexandria, Gontornews — Pemerintah Yaman melaporkan 39 kasus infeksi Covid-19 baru pada Selasa 17 Agustus 2021. Angka ini sekaligus menjadi yang tertinggi dalam satu hari yang tercatat dalam beberapa bulan terakhir.
National Coronavirus Committee (NCC) yang berbasis di Aden juga melaporkan dua kematian dari 4.016 sampel yang mereka uji. Secara total, Yaman melaporkan 7.347 kasus positif dengan 1.407 kematian dan 4.543 kesembuhan.
Menteri Kesehatan Yaman mengumumkan bahwa pihaknya telah memasuki gelombang ketiga Covid-19. “Kami telah melihat peningkatan kasus dalam sepekan terakhir dan beberapa kamp karantina kewalahan dalam menangani lonjakan kasus. Kami berpikir saat ini kami memasuki gelombang ketiga (Covdi-19),” jelas Menteri Kesehatan Yaman, Qasem Buhaibeh, kepada TV Pemerintah.
Bauhaibeh tidak segan menyebut bahwa laporan tersebut tidak menunjukkan kasus yang sebenarnya. Rendahnya pengujian serta buruknya pengawasan membuat jumlah kasus Covid-19 yang dikonfirmasi hanya 10 persen dari jumlah kasus penularan yang terjadi sebenarnya. Karenanya, ia menghimbau warga untuk taat pada protol kesehatan serta mengambil kesempatan untuk mengikuti vaksin.
“Tidak seperti banyak negara yang memiliki pengujian ekstensif, kami tidak mencatat semua kasus positif virus korona. Kami hanya menemukan kasus denga gejala berat atau sampel kasus yang masuk ke pusat isolasi atau laboratorium,” jelas Bauhaibeh.
Petugas kesehatan lokal yang tidak berada di bawah kendali Houthi tidak sanggup menangani kasus baru secara tiba-tiba. Mereka juga menyebut beberapa pusat karantina telah mencapai kapasitas maksimal seiring kurangnya pasokan medis.
Yaman secara resmi mengmumkan kasus Covid-19 pertama pada 10 April tahun lalu. Sejak saat itu, angka kasus positif terus melonjak hingga dua bulan setelahnya.
Sejak awal pandemi, milisi Houthi yang mendapatkan dukungan Iran telah menerapkan kebijakan rahasia tentang jumlah kematian dan kasus positif di beberapa daerah berpenduduk padat. Mereka juga telah melarang fasilitas kesehatan melaporkan kasus serta menolak vaksin dari petugas kesehatan.
Bauhaibeh mengatakan tindakan keras Houthi terhadap informasi telah merusak strategi kesehatan negara itu dalam menangani penyebaran virus.
“Houthi mengadopsi kebijakan yang berasal dari zaman kuno. Mereka menolak untuk mengungkap jumlah kasus yang sebenarnya untuk memberikan vaksin kepada warga. (Kebijakan) ini tentu merusak sistem kesehatan,” gumam Bauhaibeh
Ia pun mendesak COVAX dan lembaga donor internasional untuk segera memasok vaksin ke Yaman. “Kami membutuhkan lebih banyak vaksin dari banyak negara karena kami tidak dapat memberlaukan protokol kesehatan,” tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]


















