London, Gontornews — Pemerintah Inggris mengingatkan produsen makananya, Rabu (22/9/2021), bahwa akan ada kenaikan harga gas karbondioksida (Co2) hingga 500 persen. Kenaikan ini merupakan upaya pemerintah untuk mencegah kekurangan pasokan unggas dan daging yang dipicu kenaikan biaya gas alam.
Harga gas alam telah melonjak tinggi seiring tingginnya permintaan internasional pasca pembukaan kembali perdagangan pasca penguncian akibat pandemi. Akibat kenaikan ini, sejumlah produsen dan industri makanan yang bergantung pada sumber energi ini akan mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan.
Sebagai informasi, gas karbondioksida (Co2) merupakan produk pendukung dalam industri pupuk di Inggris. Perusahaan gas industri seperti Linde, Air Liquide dan Air Products and Chemicals mendapatkan hampir mayoritas gas karbondioksida dari pabrik pupuk tersebut.
Lonjakan harga gas alam telah memaksa beberapa pabrik pupuk tutup dalam beberapa pekan terakhir. Penutupan tersebut lantas membuat pasokan gas Co2 berkurang. Gas ini biasa digunakan untuk membuat minuman berkarbonasi serta melumpulhkan unggas maupun ternak sebelum disembelih.
Saat ini, harga Co2 mencapai 1000 Poundsterling per ton atau naik tajam dari harga Co2 sebelumnya yang hanya 200 Poundsterling per ton. “Kenaikan harga besar dan tajam,” sambung Eustice sebagaimana dilansir Reuters.
Pemerintah, lanjut Eustice, bersiap untuk mengeluarkan puluhan juta Poundsterling untuk menopang biaya pengadaan gas Co2 untuk 3 pekan. Rencananya, mereka akan menggandeng perusahaan asal Amerika Serikat, CF Industries, untuk memulai kembali produksi di dua pabrik yang tutup karena tidak dinilai tidak menguntungkan.
Jika tidak diambil, Eustice mengatakan beberapa perusahaan pengolah daging dan unggas Inggris akan kehabisan stok Co2 dalam beberapa hari mendatang. “Kami tahu jika kami tidak bertindak, beberapa pabrik pengolahan unggas harus ditutup,” tambah Eustice. [Mohamad Deny Irawan]


















