Bandar Seri Begawan, Gontornews — Para menteri luar negeri Asia Tenggara, Jumat (15/10/2021), sepakat untuk mengecualikan kepala junta militer untuk menghadiri pertemuan puncak pemimpin negara-negara Asia Tenggara, KTT ASEAN, bulan ini.
Para menteri mengadakan pertemuan secara online, pada hari Jumat, untuk membahas kegagalan militer Myannmar untuk mengikuti peta jalan ASEAN lima bulan lalu. Sebaliknya, ASEAN akan mengundang tokoh nonpolitik Myanmar untuk mewakili negaranya dalam pertemuan KTT ASEAN mendatang.
Kegagalan junta militer Myanmar untuk mengakhiri kekerasan, mengizinkan masuknya akses kemanusiaan dan memulai dialog dengan lawan-lawan telah menguji tekad ASEAN serta presepsi kerdibilitas internasionalnya.
Myanmar menjadi salah satu masalah ASEAN yang paling memecah belah sejak bergabung pada tahun 1997. Upaya kediktatoran yang Myanmar pertontonkan membuat mereka mendapatkan kecaman dari Barat, menguji persatuan ASEAN serta merusak citra ASEAN di mata internasional.
Menghentikan Min Aung Hlaing sebagai pemimpin Myanmar untuk menghadiri pertemuan tahunan tersebut merupakan langkah besar bagi blok tersebut. ASEAN memiliki kebijakan untuk tidak mencampuri urusan satu sama lain dan telah lama menyukai keterlibatan dalam menyelesaikan masalah ketimbang memberikan sanksi.
Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, mengatakan politisi Myanmar tidak boleh mewakili negaranya dalam setiap pertemuan ASEAN hingga situasinya kondusif. “Indonesia mengusulkan partisipasi Myanmar di KTT tidak harus diwakili politisi sampai Myanmar memulihkan demokrasinya melalui proses inklusif,” ungkap Retno Marsudi dalam akun Twitternya.
Dalam waktu dekat, Brunei Darussalam, sebagai Pimpinan ASEAN saat ini, akan mengeluarkan pernyataan terkait hal tersebut pada Sabtu (16/10/2021).
Minimnya kemajuan Myanmar telah membuat beberapa negara anggota ASEAN seperti Filipina, Singapura, Indonesia dan Malaysia marah. Mereka mengindikasikan untuk tidak melibatkan Jenderal Min Aung Hlaing dalam pertemuan KTT ASEAN 26-28 Oktober mendatang.
Utusan khusus ASEAN untuk Myanmar, Erywan Yusof sejatinya hendak mengunjungi Myanmar pekan depan untuk mengukur kesiapan negara tersebut untuk menghormati komitmen yang telah mereka sepakati. Namun, tiga sumber Reuters mengatakan Erywan memutuskan tidak jadi melakukan kunjungan ke Myanmar pekan depan. [Mohamad Deny Irawan]


















