Beirut, Gontornews — Presiden Lebanon, Michel Aoun, menyerukan pentingnya dialog secara nasional yang mempertemukan partai-partai yang memerintah negara saat ini. Pada saat yang bersamaan, kelumpuhan politik selama berbulan-bulan dalam pemerintahan Lebanon.
“Gangguan yang terjadi secara disengaja, sistematis dan tidak dibenarkan yang mengarah pada pembubaran institusi atau negara harus segera dihentikan,” kata Aoun dalam pidato yang disiarkan oleh televisi pemerintah, Senin 27 Desember 2021.
Kabinet pemerintahan di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Najib Mikati belum bertemu sejak 12 Oktober karena pertengkaran pasca penyelidikan ledakan Beirut. Tidak hanya itu, keretakan hubungan diplomatik dengan Arab Saudi dan beberapa negara teluk membuat situasi Lebanon di dunia internasional semakin rumit. Akibatnya, pemerintah tidak dapat mengambil tindakan cepat untuk mengatasi krisis ekonomi yang parah di negara tersebut.
Sejak Agustus 2019, mata uang Lebanon, Pound, telah kehilangan nilai lebih dari 90 persen karena tiga perempat penduduknya terjatuh dalam kemiskinan. Tingkat inflasi negara itu melampaui Venezuela dan Zimbabwe yang juga mengalami krisis. Bank Dunia bahkan mencatat bahwa krisis ekonomi di Lebanon adalah yang terburuk sejak pertengahan abad ke-19.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Aoun juga mengkritik parlemen karena tidak segera meloloskan reformasi ekonomi dan struktural utama. “Penghalang di parlemen telah berkontribusi pada pembongkaran negara,”
“Undang-undang pengontrol modal seharusnya disahkan dua tahun lalu karena akan berkontribusi pada pemulihan keuangan,” sambung Aoun sebagaimana dilansir Al-Jazeera.
Selama bertahun-tahun, komunitas internasional telah meminta Lebanon untuk mereformasi ekonomi, menerapkan mekanisme anti-korupsi serta mencapai kesepakatan dengan dana moneter internasional untuk mendapatkan bantuan pembangunan hingga Miliaran Dolar Amerika Serikat. [Mohamad Deny Irawan]






















